Mengenal Lebih Dekat Mpu Bharadah.
Mengenal Lebih Dekat Mpu Bharadah.
Di dalam sejarah panjang peradaban Jawa dan Bali yang tercatat di prasasti, naskah kuno, dan babad leluhur, nama Ida Mpu Bharadah atau juga dikenal sebagai Mpu Pradah menempati kedudukan yang sangat istimewa. Beliau bukan sekadar pendeta biasa, melainkan sosok rohani yang mahasakti, bijaksana, dan menjadi penasihat terpercaya bagi Prabu Airlangga, penguasa besar Kerajaan Kahuripan yang berpusat di wilayah Kediri atau Daha, Jawa Timur, sekitar awal abad ke-11 Masehi. Jejak kehidupan dan karya besarnya terjalin erat dengan perkembangan agama, politik, dan silsilah keluarga besar yang kemudian berkembang pesat hingga ke Pulau Bali.
Akar asal-usul keluarga Mpu Bharadah dapat ditelusuri kembali ke masa jauh sebelumnya. Di tanah Jawa pernah hidup seorang pendeta mulia bernama Danghyang Bajrasatwa yang dikenal luas karena kesucian dan kekuatan ilmunya. Dari garis keturunannya lahirlah Danghyang Tanuhun atau sering juga disebut Mpu Lampita — seorang pendeta aliran Buddha yang memiliki kepandaian luar biasa, penuh kebijaksanaan, dan mewarisi kesaktian tinggi persis seperti ayahnya. Ida Danghyang Tanuhun dikaruniai lima orang putra yang kemudian menjadi sangat terkenal di seluruh wilayah Nusantara dan dikenal dengan sebutan Panca Tirtha, yaitu lima sumber suci ilmu pengetahuan dan rohani. Kelima bersaudara ini adalah tokoh-tokoh kuno yang kelak menyeberang dan menanamkan akar ajaran di Pulau Bali, masing-masing membangun pusat pendidikan dan tempat suci: Mpu Gnijaya yang mendirikan pasraman di Gunung Lempuyang Madya pada tahun Isaka 971 atau 1049 Masehi dan menjadi asal-usul Sapta Resi serta keluarga Pasek; Mpu Semeru yang membangun pasraman di Besakih sejak tahun Isaka 921 atau 999 Masehi dan menurunkan Pasek Kayuselem; Mpu Ghana yang menetap di Dasar Gelgel, Klungkung pada tahun Isaka 922 atau 1000 Masehi; Ida Empu Kuturan atau Mpu Rajakretha yang tiba di tahun Isaka 923 atau 1001 Masehi dan berkarya di Silayukti, Padangbai; serta yang termuda sekaligus tokoh sentral dalam sejarah ini, Ida Mpu Bharadah sendiri yang memilih berdiam di wilayah Lemah Tulis, Pajarakan, Jawa Timur.
Masa kejayaan Kerajaan Kahuripan berlangsung di bawah pemerintahan Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa, yang memerintah dengan penuh keadilan antara tahun 1009 hingga 1042 Masehi. Airlangga adalah sosok istimewa yang lahir dari persilangan dua wangsa besar: ibunya bernama Mahendradatta, putri dari Wangsa Isyana Kerajaan Medang, sedangkan ayahnya adalah Raja Udayana dari Kerajaan Bedahulu, Bali, yang berasal dari Wangsa Warmadewa. Berkat latar belakang keluarga ini serta kepribadiannya yang tangguh sejak muda — saat memulai perjuangan membangun kembali kerajaannya nyaris tanpa bantuan — Airlangga dihormati sebagai raja yang berani, pelindung rakyat, sekaligus pelopor kemajuan pendidikan dan kesusasteraan. Salah satu ciri paling terkemuka dari masa pemerintahannya adalah terpeliharanya Tri Kerukunan Hidup: harmoni yang tercipta di antara penganut satu agama, antar penganut agama berbeda, serta antara umat beragama dengan pemerintah. Di istana Kahuripan, ajaran Siwa, Buddha, dan Brahmana dikembangkan secara berdampingan dengan penghormatan yang sama, bahkan sering kali upacara bersama diadakan untuk memuliakan ketiga arah keyakinan itu. Hal ini tercatat jelas dalam Prasasti Baru tahun 1030 Masehi maupun Prasasti Pucangan tahun 1041 Masehi, di mana para pendeta dari berbagai aliran ditempatkan pada kedudukan terhormat dan tempat-tempat suci selalu mendapat perhatian khusus dari negara.
Di akhir masa pemerintahannya, muncul persoalan pelik yang menguji kewibawaan sekaligus kebijaksanaan sang raja. Putri tertua yang dipersiapkan sebagai penerus takhta, yaitu Dewi Sanggramawijaya yang menjabat sebagai Mahamantri Hino — jabatan tertinggi di bawah raja — justru menolak kekuasaan duniawi dan memilih jalan pertapa pada tahun 963 Çaka. Putri ini juga dikenal sebagai Dewi Kilisuci atau “Putri Kedi”, yang memiliki sifat suci istimewa. Penolakan ini membuat Airlangga bingung, karena kedua putra laki-lakinya kemudian bersaing memperebutkan kekuasaan. Mengingat ikatan darahnya yang kuat dengan Pulau Bali, Airlangga sempat berniat menempatkan salah satu putranya di sana sebagai penguasa. Misi penting ini dipercayakan sepenuhnya kepada penasihat utamanya, Ida Mpu Bharadah. Dengan kesaktiannya yang luar biasa, dikisahkan Mpu Bharadah cukup menumpang sehelai daun saja untuk menyeberangi samudra memisahkan Jawa dan Bali. Sesampainya di Silayukti, beliau bertemu dengan saudara kandungnya sendiri, Ida Mpu Kuturan, tepatnya di kawasan yang kini dikenal sebagai Gua Bharadah. Namun rencana dari Kahuripan tidak berjalan sesuai harapan: Mpu Kuturan memiliki tekad sendiri untuk mengangkat cucunya sebagai penguasa di tanah kelahirannya, sehingga permohonan itu ditolak dengan halus. Gagal menjalankan tugas tersebut, Mpu Bharadah kembali ke Jawa dan kemudian melanjutkan hidup bertapa di Gua Selobale, tidak jauh dari kawasan Pura Penataran Agung Kilisuci. Sejarah mencatat bahwa di Bali, Raja Udayana akhirnya digantikan oleh putra keduanya bernama Marakata, yang kemudian diteruskan oleh adiknya, Anak Wungsu.
Masalah suksesi di Jawa akhirnya menemukan jalan keluar melalui campur tangan sakti Ida Mpu Bharadah. Sebagai jalan tengah demi menjaga persatuan dan keadilan di antara kedua putra yang bersaing, beliau ditugaskan untuk membagi wilayah Kerajaan Kahuripan menjadi dua bagian yang seimbang. Kisah ini tercatat dalam berbagai sumber kuno seperti Serat Calon Arang, kitab Nagarakretagama, Prasasti Turun Hyang II, serta Prasasti Batu Tulis di dekat Pura Agung Kilisuci yang berbunyi: “Aku telah mampu membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua yaitu Panjalu dan Jenggala”. Legenda yang hidup kuat di kalangan masyarakat menceritakan bagaimana pembagian itu dilakukan: Mpu Bharadah terbang melayang sambil mengucurkan air dari sebuah kendi; di mana tetesan air itu berhenti, di sanalah ditetapkan batas wilayah kekuasaan. Di perjalanan itu pula terjadi peristiwa unik yang memberi nama sebuah daerah: saat melewati dekat Desa Palungan, jubah beliau tersangkut ranting pohon asam, sehingga dalam kemarahan singkat beliau mengucapkan kutukan agar pohon itu tumbuh kerdil. Sejak itu tempat itu dikenal sebagai Kamal Pandak, yang berarti “asem pendek” — dan pada masa Majapahit nanti, di sinilah didirikan kompleks candi Prajnaparamita sebagai tempat penghormatan arwah Gayatri, istri Raden Wijaya. Setelah batas ditetapkan dengan tegas, Mpu Bharadah juga mengucapkan sumpah perlindungan: siapa saja kelak yang berani melanggar garis batas itu, akan tertimpa kesialan abadi. Kutukan itu baru dianggap hilang dan tidak lagi berlaku pada tahun 1289 Masehi, berkat usaha penyatuan kembali di bawah pemerintahan Raja Wisnuwardhana dari Singhasari, sebagaimana tertulis dalam Prasasti Mahaksobhya yang diterbitkan oleh Kertanagara. Akhirnya terwujudlah dua kerajaan baru: Panjalu atau Kadiri di sebelah barat berpusat di kota Daha, diperintah oleh Sri Samarawijaya; serta Jenggala di sebelah timur yang tetap mempertahankan pusat pemerintahan lama di Kahuripan, di bawah pimpinan Mapanji Garasakan. Setelah urusan ini selesai dan rasa keadilan terpenuhi, Prabu Airlangga pun merasa tugas dunianya telah tuntas. Beliau turun dari takhta, kembali memilih hidup sederhana sebagai pertapa dengan nama baru Rsi Gentayu, lalu menetap di Gua Selomangleng hingga wafat pada tahun 1049 Masehi dan dianugerahi julukan agung Sang Prabu Apuspala Jatiningrat.
Hubungan keluarga dan sejarah yang terjalin juga melahirkan kisah terkenal tentang penyelesaian konflik dengan sosok legendaris bernama Calon Arang. Tokoh ini diceritakan sebagai istri dari Ida Mpu Kuturan — saudara keempat dari lima bersaudara Panca Tirtha — yang memiliki kekuatan gaib besar namun pernah memendam kemarahan karena putrinya, Ni Dyah Ratna Manggali, sulit mendapatkan pasangan hidup akibat ketakutan masyarakat terhadap kekuasaan keluarganya. Demi mendamaikan keadaan sekaligus menyatukan kembali ikatan persaudaraan, Ida Mpu Bharadah mengambil langkah bijak dengan mengirimkan putra kebanggaannya sendiri, bernama Mpu Bahula, untuk melamar dan menikahi Dyah Ratna Manggali. Pernikahan itu dilangsungkan dengan kemegahan luar biasa dan pesta yang berlangsung tujuh hari tujuh malam penuh sukacita. Dari persatuan itu lahirlah enam orang anak yang kelak melanjutkan garis keturunan mulia: dua putra dan empat putri, di antaranya bernama Mpu Tantular dan Mpu Ciwa Bandu.
Garis keturunan Ida Mpu Bharadah terus mengalir dan berkembang menjadi silsilah raksasa yang menyebar pengaruh ke seluruh Jawa hingga ke jantung pemerintahan Majapahit dan kembali lagi menyeberang ke Bali. Putra utama beliau, Mpu Bahula, mewarisi segala ilmu dan kesaktian ayahnya, bahkan disebutkan setara derajatnya. Mpu Bahula kemudian melahirkan Mpu Tantular — tokoh cendekiawan agung yang namanya tercatat dalam sejarah sastra Indonesia sebagai penyusun kitab Kakawin Sutasoma. Di dalam naskah inilah tertulis kalimat sakti yang kelak menjadi dasar persatuan negara: “Bhinneka Tunggal Ika”. Mpu Tantular juga dikenal dengan gelar Danghyang Angsokanata dan diperkirakan berkarya di Bali sejaman dengan pemerintahan Raja Anak Wungsu sekitar tahun 1049 Masehi.
Dari Mpu Tantular turunlah empat putra penerus ajaran suci: Ida Danghyang Panawasikan, Ida Danghyang Siddhimantra, Ida Danghyang Smaranatha, dan yang bungsu Ida Danghyang Soma Kapakisan — yang kemudian menjadi guru spiritual Mahapatih Gajah Mada. Masing-masing tokoh ini memiliki wibawa disamakan dengan para Dewa: Panawasikan bagaikan Jagatpathi, Siddhimantra bagaikan Brahma, Smaranatha bagaikan Dewa Manobawa, dan Soma Kapakisan bagaikan Wisnu. Dari cabang Ida Danghyang Smaranatha kemudian lahirlah dua tokoh penting yang membelah kembali aliran agama: Danghyang Angsoka yang memelihara ajaran Buddha dan berdiam di Jawa, serta adiknya yang jauh lebih terkenal luas: Danghyang Nirartha atau Danghyang Dwijendra, yang juga dijuluki Tuan Semeru. Beliaulah yang membawa ajaran Siwa secara lengkap dan menjadi asal mula keluarga besar Brahmana Siwa di Bali yang meliputi kelompok Ida Kemenuh, Manuaba, Keniten, Mas, hingga Patapan. Sementara dari jalur Danghyang Angsoka turun Danghyang Astapaka yang membangun pasraman di Taman Sari dan menjadi akar keluarga Brahmana Buddha di pulau dewata.
Garis keturunan dari Ida Danghyang Soma Kapakisan pun tak kalah penting. Beliau menurunkan Ida Kresna Wang Bang Kapakisan yang hidup di masa Raja Kala Gemet Majapahit. Empat orang putranya kemudian diutus menguasai wilayah strategis: yang sulung menjadi raja di Blambangan, yang kedua di Pasuruhan, yang putri di Sumbawa, dan yang termuda bernama Dalem Ketut Kresna Kapakisan diutus menyeberang menetap di Bali sebagai raja perdana dari garis keturunan Majapahit. Dalem Ketut Kresna Kapakisan datang dikawal oleh barisan Arya dan pejabat tinggi yang tercatat rinci dalam Babad Dalem: mulai dari Arya Kanuruhan, Arya Wangbang Demung, Arya Kepakisan, hingga para Tri Wesya Si Tan Kober, Si Tan Kawur, dan Si Tan Mundur yang masing-masing ditempatkan di berbagai wilayah desa dan kerajaan di Bali mulai dari Kertalangu, Tangkas, Patemon, Tabanan, Klungkung, hingga ke daerah paling barat di Jembrana dan Bondalem. Istana pertamanya didirikan di Samprangan, dengan didampingi oleh I Gusti Nyuh Aya sebagai Mahapatih.
Dengan demikian, kisah Ida Mpu Bharadah bukan sekadar riwayat satu orang pendeta semata, melainkan sejarah besar penyebaran ilmu, keseimbangan antar aliran agama, serta pembentukan struktur pemerintahan dan kemasyarakatan yang kokoh yang menghubungkan dua pulau bersaudara, Jawa dan Bali, dalam satu ikatan leluhur yang tak terputus hingga hari ini.
Komentar