Jejak Suci Danghyang Nirartha.
Jejak Suci Danghyang Nirartha.
Di masa keruntuhan Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-15, Dang Hyang Nirartha memulai perjalanan suci yang disebut Dharmayatra dari Pulau Jawa menuju Pulau Bali dengan tujuan menyebarkan dan memperkokoh ajaran agama Hindu. Saat menyusuri pesisir pantai selatan Bali, matanya tertuju pada sebuah pulau karang kecil yang bentuknya sangat indah dan unik, yang oleh warga setempat dikenal dengan nama Gili Beo, yang artinya batu karang yang rupa-rupanya menyerupai burung beo. Begitu mendekat ke tempat itu, Nirartha merasakan aliran energi suci yang begitu kuat dan menenangkan, sehingga ia pun memutuskan untuk berhenti sejenak, beristirahat, dan melakukan pemujaan serta bermeditasi di atas batu karang yang suci tersebut.
Tak lama kemudian, kedatangan serta kebijaksanaan ajaran yang disampaikan Dang Hyang Nirartha dengan cepat menyentuh hati masyarakat sekitar, sehingga banyak dari mereka yang datang untuk mendengarkan dan mengikutinya. Hal ini justru memicu rasa iri dan takut kehilangan pengaruh pada pemimpin desa saat itu, yaitu Bendesa Beraben. Melihat pengikutnya perlahan berkurang dan beralih menghormati Nirartha, Bendesa Beraben merasa terancam dan tidak senang. Ia pun segera mengumpulkan orang-orang yang masih bersamanya lalu dengan tegas mengusir Dang Hyang Nirartha dari tempat yang digunakan untuk bersemedi itu, tanpa mau mendengarkan kebenaran ajaran yang dibawa.
Menghadapi sikap yang keras dan penolakan tersebut, Dang Hyang Nirartha sama sekali tidak membalas dengan kemarahan maupun kekerasan. Dengan ketenangan hati dan kekuatan spiritual yang dimilikinya, ia melakukan hal yang luar biasa: memindahkan batu karang besar tempat ia bersemedi itu menjauh sedikit ke arah tengah laut, terpisah dari daratan utama. Tempat suci itu kemudian diberinya nama Tanah Lot, yang secara harfiah bermakna "Tanah di Tengah Laut" atau "Batu Karang yang Berada di Laut", hingga nama itulah yang terus hidup dan dikenal luas hingga masa kini.
Sebelum melanjutkan perjalanan sucinya ke tempat lain, Dang Hyang Nirartha melepaskan selendang atau sabuk yang ia kenakan lalu melemparkannya ke perairan di sekitar batu karang itu. Secara ajaib, selendang itu berubah menjadi sekumpulan ular laut yang berwarna belang hitam putih dan memiliki bisa yang sangat kuat. Ular-ular tersebut kemudian ditugaskan secara khusus olehnya untuk menjadi penjaga abadi kawasan Pura Tanah Lot, guna melindungi tempat itu dari segala niat jahat, gangguan makhluk tidak baik, serta orang-orang yang berniat buruk. Sampai saat ini pun, masyarakat setempat masih percaya dan kadang dapat melihat ular-ular suci tersebut berada di dalam gua-gua karang di sekitar pura sebagai bukti janji yang diberikan.
Menyaksikan sendiri keajaiban dan kesaktian yang ditunjukkan dengan penuh kelembutan hati, Bendesa Beraben akhirnya tersadar sepenuhnya atas kesalahannya. Ia memohon maaf dengan tulus, mengakui kebesaran dan kebenaran ajaran yang dibawa Dang Hyang Nirartha, dan akhirnya menjadi pengikut yang setia. Sebagai tanda penghormatan serta bimbingan agar senantiasa menjaga keseimbangan dan kebaikan di wilayahnya, Nirartha menghadiahkan sebuah keris pusaka yang sangat sakti kepada Bendesa Beraben. Keris itu kini dikenal luas dengan nama Keris Ki Baru Gajah, yang hingga saat ini masih dijaga kesuciannya dan disimpan dengan baik di Istana Kediri, menjadi saksi persatuan dan kebenaran yang akhirnya menyatukan hati semua pihak.
Komentar