Ratu Bagus Penyarikan: Leluhur Brahmana Ahli Ilmu Wariga.
Ratu Bagus Penyarikan: Leluhur Brahmana Ahli Ilmu Wariga.
Di antara deretan tokoh suci dan leluhur yang tercatat dalam lembaran lontar kuno Bali, nama Ratu Bagus Penyarikan menempati tempat yang istimewa, terutama bagi kalangan Brahmana dan masyarakat di wilayah Bali Timur, khususnya Karangasem. Beliau dikenal sebagai tokoh suci dari garis keturunan Wangsa Brahmana Siwa-Buddha, dan hingga kini secara utama disungsung serta dihormati oleh keluarga besar Brahmana Penyarikan, juga menjadi leluhur penjaga di banyak Pura Kahyangan Tiga yang tersebar di daerah Karangasem dan sekitarnya.
Nama “Penyarikan” sendiri bukanlah sebutan sembarangan, melainkan berasal dari kata dasar nyarika yang berarti menghitung atau menentukan. Julukan ini melekat erat karena Ratu Bagus Penyarikan dikenal luas sebagai ahli mendalam dalam ilmu Wariga atau astrologi tradisional Bali. Beliau memiliki keahlian luar biasa dalam menghitung hari baik, menentukan waktu yang tepat untuk upacara, serta memahami peredaran bintang dan alam semesta, sehingga nama tersebut menjadi identitas yang melekat selamanya.
Untuk menelusuri asal-usul, perjalanan hidup, dan peran besar Ratu Bagus Penyarikan, sumber yang paling lengkap dan utama adalah Lontar Babad Brahmana Penyarikan. Naskah ini secara khusus disusun untuk mencatat sejarah leluhur ini. Di dalamnya dijelaskan bahwa Ratu Bagus Penyarikan adalah keturunan langsung dari Danghyang Nirartha atau yang juga dikenal sebagai Danghyang Astapaka — tokoh besar penyebar ajaran Hindu Siwa di Bali. Beliau datang ke pulau ini, kemudian menetap dan membangun pusat pengabdian di wilayah Karangasem. Dari garis keturunannya inilah kemudian lahir dan berkembangnya keluarga besar Brahmana Penyarikan yang masih ada hingga sekarang. Selain sebagai pemimpin rohani, beliau juga menguasai berbagai ilmu luhur, mulai dari ilmu hitung waktu Wariga, ramalan Aji Palalintangan, hingga ilmu pengobatan tradisional atau Aji Usadha.
Selain lontar khusus tersebut, kisah beliau juga tercatat dalam Lontar Babad Brahmana, yaitu naskah umum yang memuat silsilah dan sejarah perkembangan golongan Brahmana di seluruh Bali. Dalam naskah ini disebutkan bahwa Ratu Bagus Penyarikan termasuk salah satu dari rombongan Brahmana yang datang bersama Danghyang Nirartha saat perpindahan dan penyebaran ajaran dari tanah Majapahit ke Pulau Bali, membawa serta ajaran agama dan ilmu pengetahuan yang saat itu menjadi pedoman hidup masyarakat.
Dalam kerangka sejarah yang lebih luas, kehadiran beliau juga tercantum dalam Lontar Usana Bali atau yang sering disebut Usana Bali Dwipa. Naskah ini menempatkan Ratu Bagus Penyarikan sebagai salah satu tokoh utama yang bertugas menyebarkan ajaran Siwa-Buddha sekaligus memperkenalkan dan mengembangkan sistem ilmu Wariga di wilayah Bali Timur. Peran ini sangat penting karena pada masa itu, penentuan waktu dan tata cara kehidupan sangat bergantung pada keselarasan dengan alam dan bintang.
Mengingat pusat pengabdian dan kediaman beliau berada di Karangasem, maka kisah dan jasa-jasanya juga tercatat dengan jelas di dalam Lontar Babad Karangasem atau Babad Gumi Karangasem. Di sini diuraikan bagaimana Ratu Bagus Penyarikan dipercaya sebagai penasihat rohani dan penasihat kebijaksanaan bagi raja-raja yang memerintah di Karangasem. Beliau juga mendirikan tempat-tempat suci seperti merajan dan griya, yang menjadi cikal bakal tempat ibadah dan pusat pendidikan bagi keturunannya.
Terkait dengan keahliannya yang melegenda, banyak sekali Lontar Wariga dan Palalintangan yang secara langsung mengaitkan dasar ilmunya kepada Ratu Bagus Penyarikan. Dalam naskah-naskah ini disebutkan bahwa beliau adalah sumber utama dari ajaran Aji Wariga, Aji Pangider-ider, hingga Aji Penanggal-Panglong — semua merupakan dasar ilmu hitung waktu dan perhitungan alam yang hingga kini masih dipakai dalam menentukan hari pelaksanaan upacara adat dan agama di Bali. Dari sinilah makna nama “Penyarikan” benar-benar terasa: beliau adalah ahli yang pandai menghitung dan membaca tanda-tanda alam.
Ada beberapa catatan penting yang perlu dipahami agar tidak terjadi kesalahpahaman. Pertama, Ratu Bagus Penyarikan bukanlah tokoh dari golongan Arya yang merupakan Wangsa Ksatria, melainkan berasal dari Wangsa Brahmana, golongan yang bertugas menjaga ajaran suci dan ilmu pengetahuan. Tempat penghormatan utama bagi beliau berada di Pura Puseh Penyarikan, Karangasem, serta di setiap Griya milik keluarga Brahmana Penyarikan. Bagi yang ingin mempelajari langsung salinan asli atau transkrip lontar-lontar ini, koleksi paling lengkap dan terawat tersedia di Gedong Kirtya Singaraja, tempat penyimpanan naskah kuno terbesar di Bali yang menyimpan salinan Babad Brahmana Penyarikan dan berbagai naskah Wariga yang berkaitan.
Sebagai warisan budaya, lontar-lontar ini termasuk jenis babad, sehingga isinya merupakan perpaduan antara peristiwa sejarah yang nyata dengan unsur nilai luhur dan legenda yang diturunkan turun-temurun. Hal ini membuat kisah Ratu Bagus Penyarikan tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga menjadi pedoman dan identitas budaya yang terus dijaga dan dijalankan oleh keturunannya hingga hari ini.
Komentar