Kisah Sangging Prabangkara.
Kisah Sangging Prabangkara.
Dalam khazanah sastra dan sejarah Nusantara, nama Sangging Prabangkara atau yang di Bali dikenal sebagai Sangging Lobangkara selalu dikaitkan dengan sosok seniman sakti yang memiliki keahlian luar biasa dalam melukis dan mengukir. Kisah mengenai beliau tersebar luas di dua wilayah besar, yaitu Jawa dan Bali, yang masing-masing menyimpan versi cerita yang unik namun memiliki benang merah yang sama.
Di tanah Bali, cerita ini sangat populer dan dikenal melalui Lontar Satua I Sangging Lobangkara. Naskah ini tersimpan rapi di Gedong Kirtya Singaraja dengan nomor koleksi 2091/VI b (1940), dan juga telah dibukukan dalam karya I Nengah Tinggen. Dalam versi ini, diceritakan bahwa Sangging Lobangkara adalah seorang pelukis yang sangat sakti dan mahir. Kemahirannya terdengar hingga ke telinga Bhatara Dalem di Klungkung, yang kemudian memanggilnya untuk bekerja di istana.
Tugas pertamanya adalah membangun puri dan membuat patung atau togog, yang luar biasa dapat diselesaikannya hanya dalam waktu satu bulan. Kepuasan raja membuat beliau diberi tugas yang lebih sulit, yaitu melukis wajah permaisuri. Hasil lukisannya begitu sempurna dan sangat mirip hingga membuat raja merasa curiga dan cemburu. Untuk menguji sekaligus menjauhkannya, raja kemudian memerintahkan melukis segala sesuatu yang ada di dunia, mulai dari binatang hutan, isi laut, hingga benda-benda di langit.
Puncak cerita versi Bali ini sangat dramatis; Sangging Lobangkara akhirnya dinaikkan ke angkasa menggunakan sebuah layang-layang atau gagoangan. Namun, tali layang-layang itu kemudian putus, dan bukannya jatuh kembali ke bumi, beliau justru terbawa hingga mencapai Suargan (sorga ) atau kahyangan dan tidak pernah kembali lagi ke dunia.
Sementara itu, di tanah Jawa, kisah ini dikenal sebagai Babad Sangging Prabangkara yang kental dengan nuansa sejarah Majapahit. Diceritakan bahwa beliau hidup pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya. Bahkan disebutkan bahwa beliau adalah putra dari Prabu Brawijaya IV yang sangat ahli dalam seni lukis. Di sini pula tercatat sejarah penting bahwa Raden Sangging Prabangkara adalah pencipta dan penyempurna Wayang Beber. Pada tahun 1378 Masehi atau 1283 Saka, beliau yang mengubah tampilan Wayang Beber dari yang awalnya hanya hitam putih (monokrom) menjadi berwarna-warni yang indah.
Kisah perselisihannya dengan raja juga memiliki kesamaan. Beliau disuruh melukis permaisuri hingga sangat detail, bahkan tanda rahasia di tubuh permaisuri pun terekspos dalam lukisan tersebut, menimbulkan kecurigaan sang raja. Akhirnya, Prabangkara diikat pada sebuah layang-layang dan diterbangkan hingga talinya putus. Konon, tempat di mana pahat atau alat ukirnya jatuh adalah di daerah Belakang Gunung, Jepara. Inilah yang kemudian menjadi asal mula Jepara terkenal sebagai pusat seni ukir yang mendunia hingga saat ini.
Hubungan antara seni ukir ini juga diperkuat dengan catatan sejarah mengenai Patih Sangging Badarduwang yang berasal dari Campa (Kamboja) pada abad ke-16, yang merupakan ahli pahat handal di masa Ratu Kalinyamat. Karya-karya indahnya masih bisa dilihat di kompleks masjid dan makam kuno di sana. Seiring dengan runtuhnya Majapahit pada abad yang sama, banyak seniman dan pande Hindu yang menyebar ke berbagai wilayah, termasuk ke Jepara, membawa serta ilmu dan keahlian mereka.
Meskipun memiliki inti cerita yang mirip, terdapat perbedaan yang jelas antara kedua versi ini. Di Bali, sosok itu dikenal sebagai Sangging Lobangkara yang mengabdi kepada Dalem Klungkung dan akhirnya naik ke kahyangan. Sedangkan di versi Jawa, beliau adalah Sangging Prabangkara, seorang pangeran dari Majapahit, pencipta Wayang Beber, yang diterbangkan dan dibuang melalui layang-layang. Namun, di manapun ceritanya diceritakan, nama beliau selalu dikenang sebagai seniman agung yang keahliannya dianggap setara dengan kekuatan magis.
Komentar