Kisah Pasek Kayu Selem.

Kisah Pasek Kayu Selem
 
Di kawasan pegunungan yang sejuk dan mistis, tepatnya di Desa Songan, Kintamani, tersimpan sebuah warisan sejarah yang sangat unik dan berbeda dari kisah-kisah kerajaan pada umumnya. Ini adalah cerita tentang Kayu Selem, sebuah nama yang bukan merujuk pada jenis pohon atau material bangunan, melainkan menjadi nama besar sebuah soroh atau marga keluarga yang sangat dihormati di tanah Bali. Sejarah panjang dan misteri mengenai asal-usul mereka tertulis rapi dan terjaga kelestariannya dalam naskah-naskah lontar kuno yang menjadi saksi bisu perjalanan waktu.
 
Sumber utama yang menceritakan keberadaan mereka terdapat dalam Lontar Babad Pasek Kayu Selem atau sering juga disebut Babad Kayu Selem. Naskah ini merupakan induk dari segala cerita tentang keluarga ini, yang hingga kini masih tersimpan dengan baik di Desa Songan. Ditulis di atas daun lontar kering dengan aksara yang indah, lontar ini menggunakan bahasa Bali Tengahan yang dipadukan dengan kosakata Sanskerta, memberikan kesan sakral dan kuno pada setiap baris kalimatnya. Yang paling menarik dan menjadi inti dari cerita ini adalah mengenai cikal bakal mereka. Disebutkan bahwa leluhur mereka berasal dari sebuah tonggak kayu yang berwarna hitam, yang kemudian oleh kesaktian seorang resi diubah menjadi manusia.
 
Di dalam lontar tersebut diceritakan bahwa sosok manusia yang lahir dari kayu itu bernama Mpu Dryakah, dan ia merupakan keturunan atau penerus dari Mpu Kamareka. Proses perubahan dari benda mati menjadi manusia hidup itu dilakukan oleh tokoh sakti bernama Mpu Semeru. Dari situlah kemudian nama "Kayu Selem diambil sebagai identitas keluarga, sebagai pengingat abadi akan asal-usul yang ajaib dan luar biasa tersebut. Tidak hanya soal silsilah, lontar ini juga mencatat peristiwa-peristiwa besar alam, seperti letusan dahsyat Gunung Tolangkir yang kini kita kenal sebagai Gunung Agung, serta Gunung Tampurhyang atau Gunung Batur. Juga diceritakan tentang kedatangan para Dewa dan orang-orang suci dari tanah Jawa yang turut menyempurnakan tata kehidupan spiritual di pulau ini.
 
Selain naskah induk tersebut, terdapat pula Lontar Pamancangah Pasek Kayu Selem. Naskah ini berfungsi sebagai pengingat atau pangeling-eling mengenai penyebaran silsilah keluarga Pasek Kayu Selem yang kini sudah tersebar ke berbagai penjuru Bali. Bagi siapa saja yang ingin menelusuri naskah aslinya, salinan dari lontar ini dapat ditemukan di Museum Gedong Kirtya, Singaraja, yang dikategorikan dalam koleksi Babad. Ini membuktikan bahwa keberadaan mereka diakui secara luas dalam khazanah sastra lama Bali.
 
Kisah ini juga diperkuat oleh catatan dalam Lontar Usana Bali. Di dalamnya disebutkan bahwa keberadaan Kayu Selem sangat erat kaitannya dengan masa penataan pulau Bali oleh para pendeta besar seperti Mpu Kuturan dan Mpu Gnijaya. Pada masa itu, dilakukan pembagian wilayah tempat suci atau kahyangan serta pengelompokan masyarakat berdasarkan soroh atau wangsa mereka, dan di situlah posisi Pasek Kayu Selem ditetapkan dan diakui.
 
Yang membuat kisah ini semakin istimewa adalah sifat dari lontar-lontar tersebut. Berbeda dengan Babad-babad lain yang lebih banyak menceritakan tentang raja-raja, peperangan, dan garis keturunan bangsawan, Lontar Kayu Selem ini bersifat lebih kerakyatan. Ia menceritakan asal-usul masyarakat biasa yang memiliki kekuatan spiritual dan sejarah yang kokoh, menunjukkan bahwa setiap keluarga di Bali, tak peduli dari golongan mana pun, memiliki akar sejarah yang dalam dan bermakna.
 
Sebagai tempat memuja roh leluhur, keluarga ini memiliki dua pura utama yang sangat suci. Yang pertama adalah Pura Kayu Selem yang terletak di Desa Songan, dan yang kedua adalah Pura Tampuhyang di kawasan Toya Bungkah, Kintamani. Di sinilah seluruh keturunan mereka berkumpul untuk bersembahyang, mengenang jasa para pendahulu, dan merawat ikatan persaudaraan yang terjalin sejak zaman dahulu kala.
 
Kini, bagi generasi muda atau siapapun yang ingin membaca dan mempelajari kisah ini secara langsung, naskah Babad Pasek Kayu Selem sudah sangat mudah diakses. Naskah tersebut telah dialihaksarakan dan dimuat secara digital di platform seperti Wikisource dan Palm Leaf Wiki, sehingga kisah ajaib tentang manusia yang berasal dari sebatang kayu hitam ini tidak akan pernah punah, melainkan terus hidup dan dikenal oleh dunia.

Komentar