Jejak Suci Brahmana Keling.

Jejak Suci Brahmana Keling.

Dalam sejarah spiritual dan kebudayaan Bali, nama Brahmana Keling atau yang dikenal dengan gelar mulia Dalem Sidakarya tercatat sebagai sosok yang sangat istimewa dan penuh misteri. Beliau adalah pendeta sakti yang membawa berkah besar, namun perjalanannya diwarnai oleh penghinaan dan pengakuan yang luar biasa. Berbagai lontar kuno telah merekam dengan detail kisah perjalanan hidup beliau yang menjadi dasar dari tradisi suci hingga saat ini.
 
Sumber utama yang menceritakan riwayat beliau tertuang dalam Lontar Bebali Sidakarya dan Babad Sidakarya. Disebutkan bahwa nama aslinya tidak banyak diketahui orang, namun beliau dikenal sebagai Brahmana Keling karena berasal dari daerah Keling, Jawa Timur. Secara silsilah, beliau adalah putra dari Dang Hyang Kayumanis, cucu Mpu Candra, dan garis keturunan lurus dari para pendeta sakti seperti Mpu Bahula dan Mpu Beradah. Beliau termasuk golongan Brahmana Wulaka yang memiliki kesaktian tinggi, dan keluarganya sangat dihormati karena Dang Hyang Kayumanis dikenal sebagai guru atau nabe dari Raja besar Dalem Waturenggong.
 
Kisah heroik ini bermula ketika beliau berhasil menyempurnakan upacara besar di Madura dengan sangat sukses. Setelah itu, beliau berniat menyeberang ke Pulau Bali untuk menemui Raja Dalem Waturenggong yang saat itu sedang melaksanakan upacara besar Eka Dasa Rudra di Pura Besakih. Namun, takdir berkata lain. Saat datang, penampilan beliau terlihat sangat sederhana, bahkan berpakaian compang-camping dan lusuh. Oleh karena itu, beliau dikira orang gila atau pengemis, lalu diusir dan tidak diizinkan menghadap sang raja.
 
Sangat kecewa dan tersinggung oleh perlakuan tersebut, Brahmana Keling pun mengucapkan kutukan atau bhisama yang sangat dahsyat:
 
“wastu tata astu, karya yang dilaksanakan tan sidakarya (tidak sukses), bumi kekeringan, rakyat kegeringan, sarwa gumatat-gumitit ngrubeda”
 
Artinya, mulai saat itu segala upacara yang dilaksanakan tidak akan pernah berhasil sempurna, bumi akan menjadi kering kerontang, rakyat akan menderita kelaparan, dan segala sesuatu akan menjadi kacau balau.
 
Kutukan itu pun menjadi kenyataan. Terjadi kekeringan panjang dan ketidakberhasilan dalam segala karya. Menyadari ada kesalahan besar dan kekuatan sakti yang sedang bekerja, Raja Dalem Waturenggong pun memerintahkan pencarian besar-besaran. Akhirnya, sang Brahmana ditemukan dalam keadaan bertapa di sebuah tempat bernama Bandanda Negara, yang kini dikenal sebagai Desa Sidakarya.
 
Setelah dimohon maaf dan dimohon bantuannya, beliau pun bersedia menolong. Dengan kesaktiannya, beliau mampu menetralkan bencana dan memulihkan kembali kesejahteraan di Bali. Segala upacara kembali berjalan lancar dan berhasil (sida karya). Sebagai tanda penghargaan yang setinggi-tingginya, beliau dianugerahi gelar kehormatan Dalem Sidakarya.
 
Untuk mengenang jasa besar beliau, pada tahun 1518 Masehi Dalem Waturenggong memerintahkan pembangunan Pura Dalem Sidakarya di Desa Sidakarya, Denpasar Selatan. Sejak saat itu, berlaku aturan suci bahwa setiap kali akan melaksanakan upacara besar maupun kecil di seluruh Bali, umat wajib memohon tirta suci atau nunas tirta Penyida Karya di pura ini, serta menggelar pertunjukan Topeng Sidakarya.
 
Topeng ini memiliki ciri khas wajah putih, mata sipit, rambut sebahu, dan membawa bokoran, yang melambangkan sosok orang suci yang sederhana namun memiliki kekuatan luar biasa. Tujuannya agar karya yang dilaksanakan dapat "sida" atau berhasil sempurna, terhindar dari rintangan dan gangguan.
 
Selain itu, dalam Lontar Kamoksan diceritakan bahwa Brahmana Keling juga menguasai ilmu yang sangat rahasia dan sakti bernama "Ilmu Kelepasan Jiwa". Ilmu ini membutuhkan ketekunan, ketelitian, dan ketajaman batin yang sangat tinggi untuk mempraktikkannya, dan memiliki kekuatan untuk menciptakan kesejahteraan serta melimpahkan hasil alam.
 
Hingga saat ini, warisan suci tersebut terus terjaga. Naskah-naskah berharga masih tersimpan rapi di Griya Biau Muncan Karangasem, di Gedong Kirtya, dan di Pura Dalem Sidakarya, menjadi bukti abadi bahwa kesucian dan kebijaksanaan akan selalu diakui, meskipun awalnya mungkin terlihat sederhana.

Komentar