Jejak Silsilah Arya Anglurah Bajra Sika / I Gusti Ngurah Bajra Sika

Jejak Silsilah Arya Anglurah Bajra Sika / I Gusti Ngurah Bajra Sika 

Dalam khazanah sejarah dan tradisi lisan maupun tulis di Bali, penelusuran asal-usul, silsilah, dan peran tokoh-tokoh masa lalu selalu menjadi hal yang sangat penting dan dijaga dengan ketat. Salah satu nama yang tercatat jelas dalam catatan masa lalu, khususnya yang berkaitan dengan sejarah wilayah Buleleng dan trah bangsawan Arya Wang Bang Pinatih, adalah Arya Anglurah Bajra Sika atau yang juga dikenal dengan nama I Gusti Ngurah Bajra Sika. Nama ini bukan sekadar nama dalam daftar silsilah biasa, melainkan tokoh yang memiliki peran strategis dan posisi terhormat dalam struktur pemerintahan serta penyebaran keturunan Arya Wang Bang Pinatih di bagian utara Bali. Keberadaan dan riwayat hidup beliau tercatat secara rinci dan sah dalam berbagai naskah kuno atau lontar yang hingga kini masih tersimpan dan diwariskan, baik di puri-puri kerabat, gedong penyimpanan naskah, maupun di keluarga-keluarga keturunan langsung. Terdapat setidaknya tiga sumber utama lontar yang secara khusus dan gamblang menyebutkan nama, garis keturunan, serta peristiwa sejarah yang melibatkan beliau, yang menjadi rujukan utama bagi siapa saja yang ingin menelusuri jejak sejarah ini.
 
Sumber yang paling utama dan menjadi induk dari segala catatan mengenai silsilah ini adalah Lontar Babad Arya Wang Bang Pinatih. Sesuai dengan namanya, naskah ini memang dikhususkan sebagai catatan besar mengenai asal-usul, perkembangan, dan silsilah lengkap dari trah Arya Wang Bang Pinatih, salah satu garis keturunan bangsawan yang paling dihormati dan memiliki pengaruh besar di pulau Bali sejak masa-masa awal penyebaran kekuasaan. Di dalam lembaran-lembaran lontar ini, dicatat secara rinci bagaimana para keturunan Arya Wang Bang Pinatih bergerak, menyebar, dan mendirikan kekuasaan di berbagai wilayah di Bali, termasuk perpindahan dan penempatan mereka di wilayah Buleleng. Di antara banyaknya nama yang tercantum, garis keturunan yang berujung pada nama I Gusti Ngurah Bajra Sika dituliskan dengan jelas sebagai bagian dari keluarga besar ini yang kemudian menetap dan berkuasa di wilayah utara. Nilai penting dari lontar ini adalah ia menjadi bukti otentik bahwa beliau adalah bagian sah dari silsilah besar tersebut, bukan cabang terpisah. Hingga saat ini, salinan-salinan maupun naskah asli Lontar Babad Arya Wang Bang Pinatih ini banyak tersimpan rapi di Puri-puri yang merupakan peninggalan leluhur di wilayah Buleleng, serta di Griya-griya atau tempat tinggal kerabat keturunan Arya Wang Bang Pinatih, yang menjaganya sebagai warisan paling berharga dan sakral.
 
Selain catatan silsilah, peran nyata Arya Anglurah Bajra Sika dalam panggung sejarah politik dan kekuasaan Kerajaan Buleleng dapat ditemukan dengan jelas di dalam Lontar Babad Buleleng. Jika lontar sebelumnya lebih banyak berbicara tentang pohon keluarga, maka lontar ini berbicara tentang peristiwa, peperangan, dan pembentukan wilayah kekuasaan. Di dalamnya dicatat masa kejayaan Kerajaan Buleleng di bawah pemerintahan Gusti Anglurah Panji Sakti, sosok yang berjasa besar dalam menyatukan dan memperluas wilayah kekuasaan Buleleng. Dalam ekspansi besar-besaran tersebut, disebutkan nama-nama para pembantu setia, para Anglurah, para Senapati atau panglima perang yang memiliki jasa besar. Di sinilah nama Arya Anglurah Bajra Sika muncul dengan sangat menonjol. Beliau dicatat sebagai salah satu panglima terpercaya dan tokoh pembantu utama Gusti Anglurah Panji Sakti. Atas jasa-jasa dan pengabdian yang diberikan, beliau kemudian mendapat penugasan dan kedudukan untuk menguasai, mengurus, dan memimpin wilayah Sika serta daerah-daerah sekitarnya. Hal ini menjelaskan mengapa nama "Sika" begitu melekat pada gelar dan nama beliau, sekaligus menjadi asal mula nama wilayah tersebut yang hingga kini masih kita kenal. Catatan dalam lontar ini membuktikan bahwa beliau bukan hanya sekadar bangsawan keturunan, melainkan tokoh pemimpin yang memiliki kekuatan militer dan kewenangan pemerintahan yang nyata pada masanya.
 
Sumber ketiga yang sangat penting dan bersifat lebih khusus adalah Lontar Kawitan atau yang sering juga disebut dengan nama Lontar Kusuma Dewa. Berbeda dengan dua lontar sebelumnya yang bersifat umum bagi seluruh trah, lontar jenis ini biasanya dimiliki secara pribadi atau khusus oleh keluarga keturunan langsung dari I Gusti Ngurah Bajra Sika. Isinya merupakan silsilah yang ditarik secara langsung dari leluhur tertinggi, yaitu Arya Wang Bang Pinatih, menurun ke Arya Patandakan, dan terus berlanjut hingga sampai kepada generasi yang menetap di Buleleng, khususnya garis keturunan Bajra Sika dan anak cucunya. Lontar Kawitan ini berfungsi sebagai bukti diri, pedoman adat, dan penegas hubungan kekerabatan bagi keluarga yang mewarisinya. Di dalamnya terurai jelas mata rantai yang menghubungkan masa lalu hingga masa kini, menjelaskan bagaimana cabang keluarga ini tumbuh dan berkembang di wilayah tempat mereka bertahta. Lontar ini sangat sakral dan dibawa serta digunakan dalam berbagai upacara adat atau keagamaan yang diselenggarakan oleh keluarga tersebut, sebagai wujud penghormatan dan pengakuan akan asal-usul mereka.
 
Bagi mereka yang memiliki ketertarikan mendalam atau tugas untuk menelusuri dan membaca teks asli dari lontar-lontar tersebut, ada beberapa tempat penting dan terpercaya di mana dokumen bersejarah ini masih tersimpan dan dapat diteliti. Tempat yang paling utama dan paling relevan tentu saja adalah Puri Sika, Buleleng, yang merupakan pusat kedudukan dan warisan langsung dari trah tersebut, di mana naskah-naskah asli biasanya dijaga dengan sangat ketat. Sumber kedua yang menjadi perpustakaan naskah kuno terbesar dan terlengkap di Bali Utara adalah Gedong Kirtya Singaraja, di mana dalam koleksi naskah babad Buleleng-nya, nama dan riwayat Arya Anglurah Bajra Sika dapat ditemukan dengan mudah dan lengkap. Selain itu, penelusuran juga dapat dilakukan dengan mengunjungi Griya-griya atau tempat tinggal kerabat keturunan Arya Wang Bang Pinatih yang tersebar di beberapa wilayah penting seperti di Sanur, Tulikup, hingga di berbagai wilayah di Buleleng itu sendiri. Di tempat-tempat inilah, lembaran sejarah yang menceritakan kebesaran Arya Anglurah Bajra Sika dan akar budaya masyarakat Bali terus dijaga, dibaca, dan diwariskan, agar jejak perjuangan dan keberadaan leluhur tidak pernah hilang ditelan waktu.

Komentar