Jejak Sejarah Gusti Gede Pulasari.

Jejak Sejarah Gusti Gede Pulasari.

Dalam kekayaan naskah kuno Bali yang tertulis di atas lembaran daun lontar, kisah mengenai tokoh-tokoh bangsawan masa lalu tercatat dengan rinci, menjaga utuh ingatan tentang silsilah, wewenang, dan tugas suci yang diemban oleh para leluhur. Salah satu nama yang terukir jelas dalam sejarah trah Dalem Tarukan adalah Gusti Gede Pulasari. Namanya tercatat di dalam beberapa babad penting yang menjadi rujukan utama sejarah Kerajaan Gelgel dan penyebaran keturunan Dalem Tarukan, memberikan gambaran lengkap mengenai siapa beliau, dari mana asal-usulnya, serta peran besar yang diembannya demi menjaga warisan leluhur.
 
Sumber paling spesifik dan langsung membahas sosok Gusti Gede Pulasari adalah naskah berjudul Babad Ida Dalem Tarukan Pulasari Siva Sidhanta. Sesuai dengan judulnya, lontar ini dikhususkan untuk menguraikan kisah kehidupan, tugas, dan kedudukan para keturunan Dalem Tarukan, dengan fokus utama pada tokoh Gusti Gede Pulasari. Di dalam teks lontar ini, dikisahkan sebuah peristiwa penting yang menjadi titik balik penempatan beliau. Peristiwa itu bermula ketika Dalem Ketut Ngulesir, penguasa yang berkedudukan di Gelgel, sempat diliputi kemurkaan terhadap putra-putra Dalem Tarukan. Namun, setelah segala hal menjadi jelas dan kebijaksanaan diambil, Dalem Ketut Ngulesir kemudian memberikan sebuah panugrahan atau ketetapan kerajaan yang sangat berarti. Di dalam isi ketetapan itu tertulis kalimat sakti yang menjadi dasar kedudukan Gusti Gede Pulasari hingga kini: "I Gusti Gde Pulasari ditugaskan kembali ke Pulasari ngerajegang Puri (Ajinya) Ayahandanya". Makna kalimat ini sangat mendalam: Gusti Gede Pulasari diperintahkan dan ditugaskan untuk kembali ke wilayah Pulasari, tempat asal ayahnya, dengan tugas mulia dan suci yaitu menegakkan, menjaga, dan meneruskan kemegahan Puri serta segala ajian, kekuatan, dan warisan spiritual yang ditinggalkan oleh ayahanda beliau, Dalem Tarukan. Tugas ini bukan sekadar jabatan pemerintahan biasa, melainkan amanah untuk menjadi penjaga pusaka dan kesucian leluhur.
 
Kisah mengenai penempatan dan jabatan yang diemban oleh Gusti Gede Pulasari juga tercatat dengan rinci di dalam naskah sejarah besar lainnya, yaitu Babad Ida Dalem Ketut Ngulesir. Lontar ini menjadi saksi tertulis mengenai pembagian tugas dan wilayah kekuasaan yang dilakukan secara resmi oleh Dalem Ketut Ngulesir setelah para putra Dalem Tarukan berkumpul menghadap dan bersatu di Puri Agung Gelgel. Di dalam naskah ini tercatat rincian jabatan dan wilayah yang diberikan kepada masing-masing putra sesuai dengan kemampuan dan garis keturunannya. Disebutkan dengan jelas pembagian tugas tersebut: "Jabatan yang diberikan: Gusti Gede Sekar sebagai Manca di Nongan, Gusti Gede Pulasari sebagai Dukuh di Pulasari, Gusti Gede Bandem sebagai Manca di Nagasari, dan Gusti Gede Belayu sebagai Manca di Ogang". Dari catatan ini, kita mendapatkan kepastian mengenai kedudukan resmi Gusti Gede Pulasari. Beliau diangkat dan dikukuhkan memegang jabatan sebagai Dukuh di Pulasari, menguasai dan memimpin wilayah tersebut sekaligus menjaga tatanan adat dan agama di sana, sesuai dengan amanah yang diterimanya dari pusat kekuasaan kerajaan di Gelgel. Bersama saudara-saudaranya yang ditempatkan di wilayah-wilayah strategis lainnya, Gusti Gede Pulasari menjadi salah satu pilar kekuatan kerajaan yang menyebar dan menjaga kestabilan wilayah Bali.
 
Untuk melengkapi pemahaman mengenai silsilah dan hubungan darah Gusti Gede Pulasari, terdapat pula catatan yang tertulis di dalam Lontar Warmadewa Tatwa, yang juga dikenal sebagai salah satu versi dari Babad Dalem Tarukan. Di dalam naskah ini, tercantum urutan kelahiran dan nama-nama anak yang dilahirkan oleh Dalem Tarukan dari permaisuri beliau, Ni Luh Guaji atau yang juga sering disebut dengan nama Ni Luh Puaji. Teks lontar tersebut menuliskan: "Kang wayah anama Ki Gusti Gede Sekar, lan arinnyane anama Ki Gusti Gede Pulasari". Kalimat ini berarti: "Anak sulung bernama Ki Gusti Gede Sekar, dan adiknya bernama Ki Gusti Gede Pulasari". Melalui catatan ini, garis keturunan menjadi sangat jelas. Gusti Gede Pulasari adalah putra kandung dari Dalem Tarukan bersama istrinya Ni Luh Guaji/Puaji, dan beliau merupakan adik kandung dari Gusti Gede Sekar yang ditempatkan di Nongan. Hubungan darah yang erat ini menjadi dasar mengapa tugas-tugas penting dan wilayah-wilayah strategis dipercayakan kepada mereka, sebagai bentuk pewarisan kekuasaan yang sah dan lurus dari ayah ke anak.
 
Dari rangkaian catatan yang ada di ketiga naskah kuno tersebut, dapat ditarik sebuah kesimpulan yang utuh dan pasti mengenai sosok Gusti Gede Pulasari. Beliau adalah putra Dalem Tarukan dari permaisuri Ni Luh Guaji/Puaji, yang menempati urutan kedua setelah kakandanya, Gusti Gede Sekar. Melalui ketetapan resmi dari Dalem Ketut Ngulesir, Gusti Gede Pulasari ditugaskan kembali ke tanah leluhurnya di Pulasari, diangkat menjadi Dukuh wilayah tersebut dengan tugas utama meneruskan, menegakkan, dan menjaga segala ajian, kekuatan spiritual, serta kemegahan puri yang telah didirikan dan ditinggalkan oleh ayahandanya, Dalem Tarukan.
 
Keberadaan kisah ini dalam naskah-naskah seperti Babad Ida Dalem Tarukan Pulasari Siva Sidhanta dan Babad Ida Dalem Ketut Ngulesir menjadi bukti sejarah yang tak terbantahkan. Hal ini menunjukkan bahwa Gusti Gede Pulasari bukan sekadar nama dalam silsilah, melainkan tokoh kunci yang berperan penting dalam menjaga keutuhan trah Dalem Tarukan, serta menjadi penjaga warisan budaya dan spiritual yang sangat berharga di wilayah Pulasari. Jejak langkah dan amanah yang diembannya ratusan tahun silam, kini tetap hidup dan dikenang sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang peradaban dan adat istiadat di Pulau Dewata.

Komentar