Jejak Pasek Tohjiwa.

Jejak Pasek Tohjiwa.
 
Sejarah perjalanan dan asal-usul masyarakat Bali, khususnya golongan Pasek, tersimpan rapi dan terjaga keasliannya dalam lembar-lembar naskah kuno yang dikenal sebagai Lontar. Di antara tumpukan peninggalan leluhur yang tak terhitung banyaknya, terdapat dua sumber primer yang paling sering dijadikan rujukan utama ketika membahas secara khusus tentang Babad Pasek Tohjiwa. Kedua naskah ini bukan sekadar tulisan biasa, melainkan saksi bisu yang merekam silsilah, perjuangan, dan penempatan tugas para leluhur dengan sangat detail dan terpercaya.
 
Naskah pertama dan yang menjadi induk dari seluruh catatan sejarah ini adalah Lontar Babad Pasek. Lontar ini memuat kisah lengkap mengenai silsilah dan perjalanan seluruh trah Pasek, termasuk di dalamnya garis keturunan Tohjiwa. Naskah-naskah ini banyak ditemukan dan disimpan dengan sangat hormat di berbagai tempat suci, Geria, maupun Puri yang tersebar di seluruh wilayah Bali. Keabsahan dan kebenaran isinya pun telah diakui serta disahkan oleh lembaga-lembaga adat dan keagamaan yang berwenang, seperti PHDI maupun Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR).
 
Di dalam lembarannya yang mencapai ratusan halaman, tercatat dengan jelas kisah asal-usul keturunan Mpu Sanak Pitu yang berasal dari kejayaan Kerajaan Majapahit. Diceritakan bagaimana perjalanan mereka menyeberang dan menetap di Pulau Dewata, hingga proses pembagian wilayah dan tugas kepada putra-putra Tohjiwa. Bagi mereka yang ingin menelusuri jejak ini secara digital, naskah ini juga telah tersimpan dalam bentuk dokumen digital berjudul Bali-lontar-babad-pasek-250ppi.pdf yang terdiri dari 246 halaman, sebuah kekayaan intelektual yang luar biasa luas dan mendalam.
 
Selain dari naskah induk tersebut, terdapat pula naskah kedua yang lebih spesifik dan mendetail, yaitu Lontar Babad Pangeran Tohjiwa. Sesuai dengan judulnya, lontar ini secara khusus memfokuskan cerita pada sosok Pangeran Tohjiwa sendiri. Di sini tertulis dengan rinci mengenai penempatan tugas, struktur kekeluargaan, serta peran strategis yang pernah diemban oleh beliau. Salah satu catatan penting yang termuat di dalamnya adalah keterlibatan para keturunannya dalam formasi Pasukan Dulang Mangap pada masa kejayaan Kerajaan Gelgel di bawah pemerintahan Dalem Gelgel. Hal ini membuktikan bahwa trah Tohjiwa bukan hanya sekadar garis keturunan biasa, melainkan golongan yang memiliki peran vital dalam menjaga kestabilan dan keamanan negeri pada masa lampau.
 
Perlu dipahami pula bahwa Lontar Babad Pasek memiliki banyak sekali versi atau cabang cerita. Ada Babad Pasek Gelgel, Babad Pasek Bandesa, Babad Pasek Dukuh Sebun, dan masih banyak lainnya. Khusus untuk kisah Tohjiwa, biasanya tertuang secara lengkap dalam versi Babad Pasek Gelgel, mengingat keterkaitan sejarah yang sangat erat antara keluarga Tohjiwa dengan pusat pemerintahan Kerajaan Gelgel saat itu. Isi dari lontar-lontar ini tidak hanya berupa daftar nama atau silsilah semata, tetapi juga merekam peristiwa-peristiwa penting sejarah, serta pembagian wilayah kekuasaan atau apanage bagi putra-putra Tohjiwa di daerah-daerah strategis seperti Pupuan, Antasari, Bantiran, hingga Wanagiri.
 
Hingga saat ini, warisan berharga ini masih terawat dengan baik. Naskah-naskah asli berbentuk daun lontar tersebut banyak tersimpan di kediaman-kediaman keluarga Pasek, serta tersimpan aman di institusi perpustakaan besar seperti di Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana dan juga di Gedong Kirtya, Singaraja, yang merupakan salah satu pusat penyimpanan naskah kuno terbesar di Nusantara. Melalui tulisan-tulisan inilah, generasi sekarang dan yang akan datang dapat terus eling dan mengenang kembali akar sejarah yang kokoh, membuktikan bahwa peradaban leluhur kita memiliki catatan yang sangat sistematis, jelas, dan terhormat.

Komentar