Jejak Pasek Ngukuhin dalam Lembaran Sejarah.

Jejak Pasek Ngukuhin dalam Lembaran Sejarah.
 
Kisah mengenai trah Pasek Ngukuhin merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kekayaan sejarah keluarga besar Pasek di Bali. Secara garis besar, naskah-naskah yang membahas tentang keluarga ini masuk dalam rumpun besar Babad Pasek, dikarenakan Ngukuhin sendiri adalah salah satu cabang utama yang berasal dari silsilah leluhur yaitu Mpu Dangka. Untuk menelusuri akar sejarah yang kokoh ini, terdapat beberapa sumber utama yang menjadi rujukan paling otentik bagi para keturunannya hingga saat ini.
 
Sumber yang paling mendasar tertuang dalam Babad Pasek – Silsilah Mpu Dangka. Di dalam lembaran lontar induk ini, tercatat dengan sangat jelas garis keturunan yang panjang dan terstruktur. Silsilah tersebut bermula dari Mpu Dangka, yang kemudian menurunkan Mpu Wira Dangkya, berlanjut kepada Sang Wira Dangka, hingga akhirnya lahirlah sosok De Pasek Lurah Ngukuhin. Dari beliau inilah kemudian lahir generasi penerus yang menyebar menjadi berbagai marga.
 
Tercatat bahwa De Pasek Lurah Ngukuhin memiliki lima orang putra, yaitu I Pasek Nyalian, I Pasek Ngukuhin yang menjadi cikal bakal trah ini, I Pasek Pucangan, I Pasek Gaduh Blahbatuh, serta I Pasek Gaduh di Banjar Watugiling. Oleh karena itu, trah Ngukuhin dikenal membawa pungkusan atau ikatan persaudaraan yang erat bersama keluarga besar lainnya seperti Pasek Kedonganan, Kadangkan, Gaduh, Dangka, Penida, dan Taro, yang semuanya berasal dari akar yang sama.
 
Selain catatan silsilah, terdapat pula naskah khusus berjudul Babad Bali Keturunan De Pasek Lurah Ngukuhin yang secara detail mendokumentasikan penyebaran wilayah para keturunannya di seluruh Bali. Jejak kebesaran keluarga ini dapat ditemukan di berbagai daerah. Di wilayah Gianyar, mereka banyak bermukim di Banjar Danginjalan Desa Guwang, serta Banjar Selat Desa Buahan Payangan. Di daerah Badung, terdapat di Banjar Dalem Desa Angantaka dan Banjar Anggunganggde Desa Sempidi.
 
Penyebaran juga meluas hingga ke Tabanan, tepatnya di Banjar Cekik Desa Berengbeng serta Banjar Yeh Gangga Gamongansingin Desa Silamadeg. Tidak ketinggalan di wilayah Jembrana terdapat di Banjar Bebali Desa Mendoyo Dangintukad, serta di Bangli yang mencakup Desa Bangli, Pemulih, dan Sukawana. Luasnya wilayah penyebaran ini membuktikan betapa besar pengaruh dan peran trah Ngukuhin dalam tata kehidupan masyarakat Bali sejak zaman dahulu.
 
Di era modern, referensi mengenai keluarga ini juga tertuang dengan sangat rapi dalam buku berjudul Babad Pasek: Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi karya Jro Mangku Gde Ketut Soebandi yang diterbitkan pada tahun 2003 dan 2008 oleh Pustaka Manikgeni. Buku ini menjadi pegangan penting yang merangkum seluruh cabang Pasek, termasuk di dalamnya silsilah dan sejarah Pasek Ngukuhin.
 
Bukti kebesaran keluarga ini juga diperkuat oleh adanya Prasasti Pasek Dangka Selisihan. Prasasti ini merupakan salinan naskah kuno yang menyebutkan bahwa De Pasek Lurah Kadangkan, yang merupakan saudara kandung dari garis keturunan Ngukuhin, diangkat menjadi pemimpin atau Amancabhumi oleh Raja Bali Sri Gajah Waktra pada tahun Saka 1257. Fakta sejarah ini semakin mengukuhkan bahwa keluarga ini sejak lama telah dipercaya memegang peranan penting dalam pemerintahan dan adat.
 
Hingga saat ini, warisan leluhur terus dijaga dengan baik melalui berbagai Pura Kawitan Pasek Ngukuhin yang banyak tersebar, dengan pusat kekuatan dan pemujaan berada di wilayah Badung dan Tabanan sesuai dengan penyebaran para keturunannya. Naskah-naskah asli berupa lontar pun masih tersimpan dengan aman dan terawat di institusi pelestarian budaya seperti Gedong Kirtya Singaraja dan Perpustakaan Lontar Universitas Udayana, serta tersimpan sakral di masing-masing Pura Kawitan, menjadi bukti abadi bahwa darah dan semangat leluhur senantiasa hidup dan mengalir di dalam diri para pratisentananya.

Komentar