Jejak Pasek Celagi dalam Rumpun Kayu Selem
Jejak Pasek Celagi dalam Rumpun Kayu Selem
Dalam khazanah silsilah keluarga besar Pasek di Bali, trah Pasek Celagi memiliki akar sejarah yang sangat kuat dan sakral. Meskipun tidak berdiri sendiri sebagai rumpun yang terpisah, keberadaannya tertanam kokoh di dalam rumpun besar Babad Pasek Kayu Selem. Hal ini dikarenakan secara genealogis, Celagi merupakan salah satu cabang langsung dari keturunan leluhur agung, yaitu Mpu Kamareka.
Sumber utama yang menjadi rujukan paling otentik untuk menelusuri jejak ini tertuang dalam Lontar Babad Pasek Kayu Selem. Naskah bersejarah ini ditulis pada tahun Isaka 1840 oleh seorang tokoh yang sangat dihormati, yaitu Jero Mangku Ulunswi dari Desa Tejakula, Buleleng. Di dalam lembaran lontar tersebut, diceritakan dengan jelas bahwa Mpu Kamareka adalah cikal bakal dari seluruh warga Pasek Kayu Selem. Dari beliaulah kemudian lahir dan berkembang nama-nama besar yang menjadi cikal bakal marga, antara lain Ki Kayuselem, Ki Celagi, Ki Tarunyan, dan Ki Kayuan. Oleh karena itu, Pasek Celagi sesungguhnya adalah saudara sekandung dengan trah-trah lainnya dalam keluarga besar ini.
Kisah kebesaran leluhur mereka juga sangat erat kaitannya dengan sejarah spiritual di Bali. Tercatat bahwa Mpu Jayamaireng, salah satu leluhur agung dari garis keturunan ini, bersama dengan sanak saudara dan seluruh keturunannya memiliki jasa yang sangat besar, yaitu membangun Kahyangan Pura Jati di Batur. Pura ini didirikan sebagai tanda kebenaran dan kesucian yang kemudian disungsung atau dipuja oleh seluruh wangsa dan masyarakat Bali.
Hal senada juga tertulis dalam Babad Kayu Selem yang khusus membahas hubungan dengan Pura Jati Batur. Disebutkan bahwa Pura suci tersebut dibangun oleh putra Hyang Kamareka yang bernama Mpu Genijaya Kayu Ireng. Terdapat kutipan sakti dalam lontar yang berbunyi:
"mwaah wusing mangkana mwah sira sang Mpu Jayamaireng papareng lan sanak ira sutha potraka kebeh, anangunaken Kahyangan inarahan 'Pura Jati', maka cihnaning jati..."
Makna dari kalimat tersebut sangat dalam, menceritakan bagaimana Mpu Jayamaireng beserta seluruh anak cucu dan keluarganya bahu-membahu mendirikan bangunan suci yang diberi nama Pura Jati, sebagai simbol kesejatian yang menjadi pedoman bagi banyak orang.
Selain itu, sumber lain seperti Babad Pasek yang menelusuri silsilah Mpu Semeru juga memperkuat catatan ini. Diceritakan bahwa Mpu Semeru pernah memberikan amanat yang sangat penting kepada Mpu Kamareka untuk memelihara dan menjaga kesucian ajaran Sanghyang Ongkara Dyatmika. Karena kesetiaan dan pengabdian inilah, keturunan Mpu Kamareka kemudian dikenal sebagai Pasek Kayu Selem, termasuk di dalamnya adalah garis keturunan Ki Celagi. Tugas utama yang diemban oleh trah ini adalah meneruskan ajaran spiritual yang luhur agar warisan budaya dan agama tidak pernah hilang ditelan zaman.
Sebagai catatan penting bagi para keturunannya, Pasek Celagi bukanlah sebuah trah yang berdiri sendiri, melainkan bagian yang tak terpisahkan dari keluarga besar Pasek Kayu Selem. Pusat pemujaan atau Pura Kawitan utama bagi trah ini adalah Pura Kayu Selem yang terletak di Desa Songan, Kintamani, serta Pura Jati Batur yang menjadi simbol persatuan spiritual mereka.
Hingga saat ini, naskah-naskah berharga seperti Babad Kayu Selem masih tersimpan dengan baik dan terawat, baik di institusi pelestarian budaya seperti Gedong Kirtya di Singaraja, maupun tersimpan sakral di tangan para penglingsir atau ketua keluarga trah Kayu Selem. Jadi, bagi siapa saja yang ingin menelusuri silsilah dan sejarah Pasek Celagi, rujukan utamanya tetaplah pada Babad Pasek Kayu Selem, karena di sanalah nama leluhur mereka disebutkan secara langsung sebagai penerus darah suci Mpu Kamareka.
Komentar