Jejak Panjang Arya Pengalasan.

Jejak Panjang Arya Pengalasan.

Dalam peta sejarah Nusantara yang sangat panjang, nama Arya Pengalasan merupakan salah satu tokoh yang memiliki akar sejarah paling tua dan gagah berani. Keberadaan beliau tidak hanya tercatat pada masa kejayaan Majapahit, tetapi jejaknya sudah terlihat sejak masa kerajaan Singosari dan bahkan bersambung hingga ke masa Raja Airlangga. Oleh karena itu, banyak sekali naskah kuno dan lontar yang merekam perjalanan hidup serta keturunan beliau yang sangat dihormati.
 
Sumber yang paling lengkap dan menjadi rujukan utama tertuang dalam Lontar Babad Arya Jawi dan Babad Arya Bali berbahasa Kawi, salinan karya Ida Bagus Bajra dari Griya Kawyasastra Besakih tahun 2021. Di dalamnya, Arya Pengalasan disebutkan secara jelas sebagai salah satu pengiring setia Dalem Sri Kresna Kepakisan yang datang ke Bali dalam ekspedisi besar Gajah Mada. Namanya disejajarkan dengan para panglima besar lainnya seperti Arya Kanuruhan, Arya Wang Bang, Arya Kenceng, dan Arya Belog. Dalam tata krama istana, beliau memegang peranan penting sebagai penjaga keamanan atau pangalasan di dalam Pasaban atau ruang sidang raja, memastikan ketertiban dan keamanan berjalan dengan baik.
 
Namun, kisah heroik beliau sebenarnya sudah dimulai jauh sebelumnya, tepatnya pada tahun 1227 Masehi di Kerajaan Singosari. Menurut catatan dalam Babad Arya Pengalasan, pada masa itu Arya Pengalasan tidak dapat lagi mentolerir keserakahan dan perilaku jahat Ken Arok. Beliau kemudian turun tangan membantu Anusa Pati untuk menghabisi Ken Arok menggunakan keris sakti Mpu Gandring. Peristiwa bersejarah ini menempatkan beliau sebagai tokoh kunci dalam pergantian kekuasaan.
 
Setelah peristiwa itu, beliau diangkat menjadi Senopati atau panglima tertinggi pasukan, bertugas menjaga keselamatan keluarga kerajaan. Meskipun kemudian terjadi konflik lagi di mana Anusa Pati gugur di tangan Panji Toh Jaya, Arya Pengalasan tetap dipercaya memegang tampuk kepemimpinan militer di bawah pemerintahan Raja Wisnuwardana. Hingga akhir hayatnya pada tahun 1268 Masehi, jabatan tersebut kemudian diteruskan oleh putranya yang juga menyandang nama yang sama, Arya Pengalasan. Menariknya, versi babad ini mencatat bahwa yang bertindak langsung membunuh Ken Arok adalah Arya Pengalasan sendiri, sedikit berbeda dengan versi sejarah umum yang sering diajarkan di sekolah.
 
Akar silsilah yang semakin dalam ditemukan pula dalam Lontar Babad Arya karya Drs. K.M. Suhardana. Disebutkan bahwa sejak masa Raja Airlangga sekitar tahun 1019 Masehi, beliau memiliki putra dari permaisuri yang bernama Arya Buru, yang juga dikenal dengan nama lain Arya Timbul atau Arya Pengalasan. Ini membuktikan bahwa trah ini adalah keturunan langsung dari darah raja-raja besar di Jawa Timur.
 
Hubungan kekerabatan yang erat juga tercatat dalam Babad Blahbatuh dan Prasasti Tutuan. Di Babad Blahbatuh, silsilah menunjukkan bahwa dari Krian Cacaran turunlah Krian Pengalasan Peninggungan yang bergelar Ki Gusti Ngurah Jelantik, dan dari sanalah trah Gusti Jelantik di Blahbatuh bermula, yang merupakan cabang dari garis Pengalasan. Sementara itu, Prasasti Tutuan dan Raja Purana mencatat bahwa Ki Mantri Tutuan adalah menantu dari Sira Arya Buru atau Arya Pengalasan, memperkuat bukti hubungan kekeluargaan yang luas pada masa itu.
 
Setelah menetap di Bali, tugas mulia pun diberikan kepada beliau. Arya Pengalasan dipercaya untuk membangun Pura Tampur Hyang di daerah Songan, Kintamani. Pura ini didirikan sebagai tanda perdamaian dan peringatan usainya pertempuran antara pasukan Majapahit dengan masyarakat Bali Aga. Karena kedudukan dan kebijaksanaannya, beliau menjadi jembatan penghubung yang sangat penting untuk menjalin kerukunan dengan masyarakat adat setempat di wilayah Songan.
 
Hingga saat ini, warisan leluhur tersebut terus dijaga dengan sangat baik. Trah Pengalasan memiliki kaitan erat dengan Pura Tampur Hyang di Kintamani sebagai pusat kawitan. Naskah-naskah berharga yang menceritakan kehebatan beliau masih tersimpan rapi di Museum Gedong Kirtya, di Merajan Agung Jeroan Gede Bindu Abiansemal, serta terawat di berbagai puri dan rumah besar keturunan Jelantik dan Pengalasan di seluruh Bali, menjadi bukti abadi bahwa sejarah panjang dan kejayaan masa lalu masih terus hidup dan dikenang.

Komentar