Jejak Mulia Wangsa Pande.

Jejak Mulia Wangsa Pande.

Dalam tatanan masyarakat dan sejarah Bali, keberadaan Wangsa Pande memiliki tempat yang sangat istimewa dan sakral. Mereka dikenal sebagai salah satu soroh atau kelompok masyarakat yang sangat tua, termasuk dalam golongan Bali Mula, yang memiliki keahlian luar biasa dalam mengolah logam dan menciptakan karya seni yang bernilai tinggi. Banyak sekali naskah kuno atau lontar yang membahas tentang asal-usul, tugas suci, dan warisan leluhur mereka, membuktikan betapa pentingnya peran trah ini sejak zaman dahulu kala.
 
Sumber utama yang menjadi induk cerita ini tertuang dalam Lontar Babad Pande Bratan. Di dalamnya diceritakan bahwa leluhur mereka berasal dari golongan Brahmana sakti keturunan langsung dari Batara Brahma di wilayah Singosari Tumapel. Terdapat lima bersaudara yang sangat sakti, yaitu Mpu Gnijaya, Mpu Witadharma, Mpu Kapakisan, Mpu Sidimantra, dan Mpu Kulputih.
 
Garis keturunan ini terus berlanjut dari generasi ke generasi, melewati Mpu Wiradharma, Mpu Lampita, hingga lahirlah Mpu Lumbang. Karena keahliannya yang luar biasa dalam menempa besi, Mpu Lumbang kemudian dikenal dengan gelar besar Mpu Gandring, yang menjadi cikal bakal utama trah Pande.
 
Kisah penciptaan mereka pun sangat magis. Diceritakan bahwa Batara Brahma bertapa yoga di Gunung Silasayana, dan dari paha kanannya keluar api yang berubah menjadi tirta Amerta atau air kehidupan. Dari sanalah lahir Mpu Brahma Raja, sosok yang sangat sakti yang ahli dalam Amande galuh (membuat perhiasan) dan Amande gandring (membuat senjata tajam). Sejak saat itu, terbagilah dua keahlian utama yang disebut Dwilabha: Angandring yaitu seni membuat keris dan tombak, serta Angaluh yaitu seni membuat perhiasan dan busana kebesaran untuk kepanditaan dan keraton.
 
Kedudukan yang sangat tinggi ini diperkuat oleh Lontar Prasasti Pande Kesian. Di sana terdapat wasiat atau bhisama dari Raja Dalem Gelgel yang menyebutkan dengan sangat hormat:
 
"...apan sira Pande ya titis Brahmanda Pandita Siwa, sawangsan nira sakeng turunan nira sira DangHyang Dwijendra..."
 
Artinya, kaum Pande adalah titisan Brahmana Pandita Siwa, keturunan langsung dari Danghyang Dwijendra. Tugas suci mereka adalah melebur dan mengolah gangsa, baja, besi, emas, perak, dan segala jenis permata untuk kemegahan dan kebutuhan seluruh dunia. Oleh karena itu, mereka disebut sebagai "rumaga pamuput karya", yang berarti pihak yang menyempurnakan segala karya, dan juga menjadi "pamuput yadnya" atau penyempurna upacara di seluruh alam semesta.
 
Di Bali, terdapat banyak versi babad yang disesuaikan dengan penyebaran mereka, seperti Babad Pande Bang, Babad Pande Serongga, hingga Babad Pande Tamblingan yang menceritakan keberadaan mereka sejak zaman Bali Kuno di sekitar danau pegunungan. Salah satu kitab yang wajib dipelajari oleh seluruh warga Pande adalah Lontar Sundari Bungkah, yang menjadi pedoman hidup dan ilmu kepandean.
 
Selain itu, terdapat pula Lontar Dharma Kepandean yang berisi aturan, sikap mental, dan pantangan yang harus dijaga dengan sangat ketat oleh para pengrajin, terutama saat membuat keris bertuah. Mereka memiliki karakter khas yang disebut berjiwa Mpu, yaitu memiliki jiwa seniman dan pendeta yang tinggi, serta memiliki posisi yang unik karena tidak sepenuhnya terikat oleh sistem kasta namun sangat dihormati karena keahlian dan kesaktiannya.
 
Hingga saat ini, warisan leluhur tersebut terus dijaga dengan sangat baik. Leluhur utama mereka, Mpu Brahma Raja Wisesa, diundang oleh Gajah Mada ke Bali dan diberi gelar Bhagawan Pandya Bumi Sakti. Beliau memiliki putra bernama Brahma Rare Sakti atau Mpu Gandring dan putri Dyah Kencanawati.
 
Sebagai bukti penghormatan, terdapat banyak Pura Kawitan yang didedikasikan untuk mereka, antara lain Pura Penataran Pande di Besakih, Pura Pande Tamblingan, Pura Pande Beratan, hingga Pura Pande di Nusa Penida.
 
Dalam kehidupan sehari-hari, mereka juga terikat oleh bhisama atau pesan leluhur yang tegas, yaitu dilarang menjadi penjual daging, membuat tembikar atau barang dari tanah liat, menerima upah dengan cara menebuk padi, serta pantang memakan sisa makanan orang lain, makan serangga laron, dan ikan gabus.
 
Naskah-naskah berharga ini masih tersimpan dengan aman di berbagai tempat, seperti di Gedong Kirtya Singaraja nomor registrasi 46102, di Griya Baudha Taman Urauwati di Karangasem, dan tersebar di seluruh Pura Kawitan Pande di Bali, menjadi saksi bisu bahwa keahlian dan kesucian Wangsa Pande telah ada sejak zaman nenek moyang dan akan terus abadi.

Komentar