Jejak Mulia Sri Aji Tegal Besung.

Jejak Mulia Sri Aji Tegal Besung.

Dalam silsilah besar raja-raja Bali dan keluarga Wangsa Kepakisan, nama Sri Aji Tegal Besung atau Dalem Tegalbesung memiliki tempat yang sangat istimewa dan terhormat. Meskipun beliau tidak pernah naik tahta menjadi raja yang memerintah, darah dan keturunannya menyebar luas serta memegang peranan vital dalam sejarah kerajaan di Bali. Keberadaan beliau terekam jelas dalam berbagai naskah kuno yang menjadi saksi bisu asal-usul keluarga besar ini.
 
Sumber utama yang menceritakan tentang beliau tertuang dalam Lontar Babad Dalem atau Pemancangah Dalem. Di sana diceritakan dengan jelas bahwa Sri Aji Tegal Besung adalah putra bungsu dari raja besar Ida Dalem Shri Aji Kresna Kepakisan, Adipati Bali yang berpusat di Keraton Samprangan, Gianyar. Beliau adalah adik termuda dari para pangeran lainnya seperti Dalem Samprangan, Dalem Tarukan, dan Dalem Sagening. Lahir sekitar tahun 1350-an Masehi, tepat setelah masa penaklukan Bali oleh pasukan Majapahit pada tahun 1343, beliau tumbuh menjadi sosok yang sangat dihormati di lingkungan istana.
 
Peran penting keluarga ini semakin terlihat dalam catatan Lontar Babad Dalem Dimade dan Babad Sagening. Disebutkan bahwa ketika Dalem Dimade atau Dalem Sagening masih kecil, beliau diasuh dan dididik dengan penuh kasih sayang oleh putra-putra dari I Dewa Tegal Besung sendiri. Para pengasuh tersebut adalah orang-orang kepercayaan yang sangat setia, yaitu I Dewa Gedong Arta, I Dewa Anggungan, I Dewa Bangli, dan I Dewa Pagedangan. Hal ini membuktikan betapa dekat dan dipercayanya keluarga Tegal Besung dalam lingkaran kekuasaan kerajaan saat itu.
 
Hingga saat ini, warisan dan ikatan kekeluargaan tersebut masih sangat kuat terjaga. Terdapat organisasi besar yang menaungi seluruh keturunannya bernama Manca Agung Trah Ida Dhalem Shri Aji Tegal Besung. Dalam upacara peresmian sekretariat mereka di Kedewatan Ubud pada tanggal 23 Februari 2020, dibacakanlah Lontar Bhisama yang berisi pesan-pesan luhur dari leluhur.
 
Wasiat tersebut berbunyi agar seluruh keturunan tidak pernah melupakan asal-usul, wajib bersembahyang dan memohon berkah di linggih leluhur yaitu Ida Dhalem Wawu Rauh atau Ida Dhalem Shri Aji Kresna Kepakisan yang berada di Pura Dalem Samprangan dan juga di Pura Besakih. Selain itu, para keturunan diwajibkan untuk terus belajar agar menjadi orang yang cerdas dan berguna, serta senantiasa menjaga tali persaudaraan atau pasemetonan agar tidak pernah putus.
 
Sebagai catatan sejarah yang penting, meskipun Sri Aji Tegal Besung tidak pernah memegang tampuk pemerintahan sebagai Dalem, namun pengaruh beliau sangat besar. Banyak dari keturunannya yang kemudian menjadi anglurah dan punggawa atau pemimpin daerah di berbagai wilayah. Saat ini, trah Tegal Besung tersebar luas tidak hanya di Kedewatan, tetapi juga hingga ke Sukawati, Tampaksiring, dan berbagai pelosok Bali, dengan jumlah organisasi tingkat kecamatan yang mencapai 57 titik di seluruh pulau.
 
Naskah-naskah berharga yang menceritakan kebesaran keluarga ini masih tersimpan dengan baik dan terawat, antara lain di Museum Gedong Kirtya Singaraja, di Griya Pidada Klungkung, serta di Pura Dalem Samprangan Kedewatan, menjadi bukti abadi bahwa darah biru Wangsa Kepakisan terus mengalir kental dan dihormati hingga generasi sekarang.

Komentar