Jejak Luhur Pasek Tanggun Titi dalam Lembaran Sejarah

Jejak Luhur Pasek Tanggun Titi dalam Lembaran Sejarah
 
Kisah mengenai keturunan Pasek Tanggun Titi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kekayaan sejarah besar keluarga Pasek di Bali. Secara garis besar, naskah-naskah yang membahas tentang trah ini masuk dalam rumpun besar Babad Pasek, mengingat sosok Tanggun Titi sendiri adalah salah satu putra yang sangat dihormati dari leluhur agung, Kyayi Pasek Tohjiwa. Untuk menelusuri akar sejarah yang kokoh ini, terdapat dua sumber utama yang menjadi rujukan paling otentik dan terpercaya hingga saat ini.
 
Sumber pertama dan yang menjadi induk dari seluruh catatan ini tertuang dalam Lontar Babad Pasek atau yang juga dikenal sebagai Babad Tohjiwa. Di dalam lembaran kuno tersebut, tertulis dengan sangat jelas bahwa Kyayi Pasek Tohjiwa memiliki dua belas putra yang kemudian menyebar menjadi cikal bakal keluarga Pasek di berbagai wilayah. Salah satu dari dua belas putra itulah yang bernama Pasek Tanggun Titi. Dalam urutan silsilah yang tercatat rapi, disebutkan bahwa Kyayi Pasek Tohjiwa menjabat sebagai tabeng wijang atau pelindung utama di Kerajaan Gelgel, dan bersama beliau berdiri gagah saudara-saudara sekandung yang terdiri dari Pasek Tanggun Titi, Pasek Penataan, Pasek Antasari, Pasek Alas Ukir, Pasek Langlang Linggah, Pasek Besang, Pasek Duda, Pasek Wanagiri, Pasek Medaan, Pasek Bantiran, Pasek Pupuan, serta Pasek Sanda. Nama-nama ini menjadi bukti betapa besar dan luasnya pengaruh keluarga ini dalam peta sejarah Bali.
 
Selain naskah induk tersebut, terdapat pula sumber kedua yang lebih spesifik, yaitu Lontar atau Babad khusus Pasek Tohjiwa Tanggun Titi. Naskah ini secara mendalam menceritakan perjalanan dan kehidupan trah Tanggun Titi yang bermukim di wilayah Tabanan. Di dalamnya tercatat bahwa garis keturunan Pasek Tohjiwa Tanggun Titi adalah penerus dari Ki Pasek Badak atau Ki Pasek Wanda, yang merupakan keturunan langsung dari I Gusti Pasek Tohjiwa Dimadya, dan seterusnya berhubung hingga ke Kyayi I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa. Silsilah ini terjaga dengan sangat baik, memastikan bahwa darah dan semangat leluhur tetap mengalir kental.
 
Kisah perjalanan sejarah mereka pun tertulis sangat dramatis dan penuh makna. Tercatat bagaimana mereka melalui tahapan penting dalam membuka dan menata wilayah. Dimulai dari Enjung Semulungan, sebuah tempat yang dijadikan lokasi yoga semadi atau meditasi mendalam atas izin Raja Tabanan sebelum mereka resmi masuk dan menetap di wilayah Tanggun Titi. Kemudian perjalanan berlanjut ke Jakatebel, di mana di tempat inilah mereka mendapatkan pusaka sakti berupa Senjata Sapujagat. Di tempat ini pula mereka berhasil mempersatukan wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh para pemuka adat setempat atau disebut Para Ngakan.
 
Puncak dari penataan wilayah tersebut terjadi di daerah Miu. Di sinilah pusat pemerintahan dan tata kehidupan disusun secara rapi dan terstruktur. Mereka mengatur tata letak tempat suci, pembagian wilayah warga, hingga penetapan nama desa dan banjar. Bahkan di tempat inilah ditemukan benda bersejarah berupa Gong Siem, yang menjadi simbol kemakmuran dan kesatuan. Atas jasa-jasa besar tersebut, khususnya dalam upaya mempersatukan masyarakat, Raja Tabanan memberikan wewenang yang sangat istimewa kepada keluarga Pasek Tohjiwa Tanggun Titi. Mereka dipercaya sebagai penata nilai sosial budaya dan agama di wilayah tersebut, sebuah kehormatan yang sangat besar yang dipegang teguh hingga turun-temurun.
 
Hingga hari ini, warisan naskah-naskah berharga ini masih tersimpan dengan baik dan terawat. Lontar Babad Pasek versi lengkap banyak ditemukan di berbagai Griya dan Puri keluarga, serta tersimpan aman di institusi pelestarian budaya seperti Gedong Kirtya di Singaraja dan Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana. Khusus untuk trah Tanggun Titi, naskah-naskah asli banyak tersimpan dan dirawat dengan penuh hormat di wilayah asal mereka, yaitu di Desa Tanggun Titi, Kediri, Tabanan, sebagai bukti abadi bahwa sejarah mereka tidak pernah hilang, melainkan terus hidup dan dikenang.

Komentar