Jejak Luhur Ksatria Taman Bali Dan Warisan Tirtha Harum
Jejak Luhur Ksatria Taman Bali Dan Warisan Tirtha Harum
Dalam peta sejarah dan silsilah bangsawan di Bali, trah Satria Taman Bali atau yang juga dikenal sebagai Ksatria Tamanbali memiliki keistimewaan tersendiri. Mereka dikenal dengan sebutan Warih Mahagotra Tirtha Harum, sebuah nama yang membawa aroma kesucian dan kebesaran sejak zaman dahulu. Berbagai sumber tertulis, baik berupa lontar kuno maupun buku sejarah, mencatat dengan sangat jelas asal-usul, perjalanan, dan kejayaan trah ini.
Sumber utama yang menjadi induk cerita ini tertuang dalam Babad Ksatrya Tamanbali. Buku dan naskah khusus ini mengisahkan secara runtut perjalanan leluhur mereka. Babad ini dibagi menjadi beberapa bagian penting, dimulai dari akar sejarah di tanah Jawa yang bersumber dari Bhatara Hyang Pasupati, Mpu Bharadah, dan Sang Catur Pandita. Kemudian cerita berlanjut ke masa pengangkatan Adipati Majapahit Sri Kresna Kepakisan, di mana tokoh suci seperti Dang Hyang Jaya Rembat dan Dang Hyang Subali diangkat menjadi Bhagawanta atau pemuka agama di istana Dalem Samprangan.
Di dalamnya juga tercatat kisah cinta dan penyatuan garis keturunan yang sangat penting. Ki Dukuh Suladri menikah dengan putri abdi anugrah Dalem Gelgel. Dari pernikahan tersebut lahirlah putri-putri cantik yang kemudian memperkuat trah ini; Ni Luh Ayu Sadri menikah dengan Sang Angga Tirtha atau Bhatara Batur, sedangkan Ni Luh Ayu Sadra bersanding dengan Raja Dalem Gelgel sendiri. Dari sinilah benih-benih kebesaran trah Satria Taman Bali mulai tumbuh subur. Babad ini juga mencatat dengan detail daftar raja-raja Tamanbali yang memerintah dari tahun 1524 hingga 1809 Masehi, dimulai dari Sang Gharbajata yang dianugerahi gelar I Dewa Tamanbali sebagai raja pertama, kemudian dilanjutkan oleh I Dewa Ngurah Oka Pemecutan dan seterusnya.
Salah satu sumber yang paling unik dan sakral adalah Lontar Pura Dalem Sila Adri. Naskah ini menjadi satu-satunya rujukan yang secara spesifik menjelaskan makna dan asal-usul nama Tirta Harum dan Taman Bali. Disebutkan bahwa Danghyang Subali memiliki tempat bertapa atau stana yoga di wilayah Gunung Tohlangkir atau Gunung Agung, tepatnya di Pura Bukit Batur yang berjarak sekitar 150 meter di sebelah timur Pura Tirta Harum.
Daerah tempat beliau bertapa tersebut diberi nama Brasika, yang artinya "ikan Nyalian". Beliau membangun dua tempat suci yang menjadi simbol kehidupan: yang pertama adalah Tirta Harum, yang airnya sangat suci dan beraroma wangi sebagaimana tertulis “Umijil Ertalia Merik”. Yang kedua adalah Taman Bali yang dibangun agar menjadi tempat yang indah dan asri.
Ada filosofi yang sangat mendalam di balik nama-nama ini: Brasika melambangkan ikan, sedangkan Taman Bali melambangkan taman atau tempat hidup. Ikan akan sulit hidup jika tidak ada air dan tempat yang layak, sebaliknya taman akan terlihat kotor dan sepi jika tidak dihuni. Oleh karena itu, keduanya harus menyatu dan saling melengkapi, menjadi simbol harmoni yang abadi.
Kisah ini juga diperkuat oleh catatan Sejarah Singkat Kawitan Tirta Harum yang menyebutkan bahwa bayi yang lahir di kawasan suci Tirta Harum tersebut adalah putra dari Danghyang Subali sendiri, yang kemudian menjadi cikal bakal trah ini. Selain itu, dalam Babad Dalem dan catatan sejarah di berbagai Puri, trah Satria Tamanbali selalu disebut sebagai keturunan langsung dari garis suci Dang Hyang Subali yang kemudian berlanjut melalui Ki Dukuh Suladri, yang memperkuat kedudukan mereka sebagai bangsawan yang memiliki darah suci dan darah raja.
Sebagai catatan penting yang perlu dikenang, trah ini memiliki beberapa nama panggilan yang sama maksudnya, yaitu Satria Taman Bali, Ksatria Tamanbali, dan juga dikenal sebagai keluarga besar Maha Gotra Tirtha Harum. Leluhur utama yang mereka hormati adalah Dang Hyang Subali, Ki Dukuh Suladri, serta Sang Angga Tirtha atau Bhatara Batur. Tonggak sejarah mereka ditandai dengan penobatan I Dewa Tamanbali atau Sang Gharbajata sebagai raja pertama pada tahun 1524 Masehi.
Hingga saat ini, warisan leluhur tersebut terus dijaga dengan sangat baik melalui berbagai tempat suci. Pusat pemujaan atau Pura Kawitan utama mereka antara lain adalah Pura Tirta Harum, Pura Bukit Batur, Pura Dalem Sila Adri, serta pura-pura di kawasan Taman Bali, Bangli. Naskah-naskah berharga ini masih tersimpan rapi di Gedong Kirtya Singaraja, di dalam keluarga Puri Tamanbali, dan juga dirawat di Pura Tirta Harum. Di era modern, kisah agung ini juga telah dibukukan secara lengkap dalam karya Babad Ksatrya Tamanbali agar generasi penerus senantiasa mengenang asal-usul yang harum dan mulia.
Komentar