Jejak Langkah Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori.
Jejak Langkah Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori
Dalam lembaran sejarah kerajaan di Bali, kisah mengenai Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori menyimpan catatan yang unik dan penuh dinamika. Keberadaan trah ini terekam jelas dalam beberapa naskah kuno yang menjadi saksi perjalanan panjang leluhur mereka, mulai dari lingkungan istana hingga membangun kekuatan sendiri di tanah perantauan.
Sumber utama yang menjadi induk cerita ini tertuang dalam Lontar Babad Arya Tegeh Kuri atau Babad Arya Kenceng Tegeh Kuri karya Bhagawan Dwija. Di dalamnya dijelaskan bahwa sosok yang kelak dikenal sebagai Arya Kenceng Tegeh Kuri sebenarnya adalah anak kandung dari seorang Raja atau Dalem, kemungkinan besar adalah Dalem Sri Kresna Kepakisan atau Dalem Agra Samprangan.
Namun, takdir berkata lain. Suatu peristiwa bersejarah terjadi saat sang pangeran sedang menghadap ayahnya di ruang sidang atau Pasaban. Karena terlalu sayang atau karena situasi tertentu, ia merangkul sang Raja. Perbuatan ini dianggap melanggar tata krama dan aturan istana yang sangat ketat, sehingga sang ayah pun murka dan mencabut haknya sebagai putra mahkota atau anak kandung.
Untuk menyelamatkan dan memberikan tempat bagi putranya, sang Raja kemudian menyerahkan anak tersebut kepada Arya Kenceng yang berkedudukan di Buahan, Tabanan. Sejak saat itu, ia diangkat menjadi anak dan diberi nama Arya Kenceng Tegeh Kuri.
Setelah Arya Kenceng wafat, ketegangan kembali muncul. Terjadi perselisihan antara Arya Kenceng Tegeh Kuri dengan anak kandung Arya Kenceng sendiri, yaitu Arya Ngurah Tabanan. Merasa tidak betah dan ingin mencari jalan sendiri, Arya Kenceng Tegeh Kuri pun memutuskan untuk merantau. Beliau akhirnya memilih menetap di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Benculuk, Tonja, Denpasar. Di sanalah beliau membangun puri dan menjadi cikal bakal trah yang besar.
Kisah tragis namun heroik kembali terjadi pada masa keturunannya. Putri beliau yang bernama Ni Gusti Ayu Mimba menjadi rebutan antara dua pihak yang kuat, yaitu Arya Pucangan (putra Arya Ngurah Tabanan) dan putra Raja Mengwi. Karena Arya Kenceng Tegeh Kuri condong memihak kepada pihak Mengwi, murka pun melanda. Puri Benculuk akhirnya digempur dan diserang oleh pasukan Arya Pucangan, menjadi bukti betapa kerasnya persaingan politik dan kekuasaan pada masa itu.
Mengenai nama tempat, Lontar Babad Dalem Benculuk Tegeh Kori memberikan penjelasan yang sangat menarik. Nama "Benculuk" berasal dari kata asal Buahan, yang kemudian berkembang menjadi Buahan Jolok, yang berarti buah pinang yang diambil atau dijolok dari tempat yang tinggi. Menariknya, istilah ini sudah ada sejak awal abad ke-15, jauh lebih tua dari perkiraan banyak orang.
Selain itu, terdapat pula sumber lain yaitu Lontar Babad Arya Dalem Baansuluk Tegehkori yang terekam dalam buku Mewali ke Purusha Jati. Naskah ini menceritakan kelanjutan sejarah, di mana sebagian dari trah ini kemudian menyingkir dari Puri Ksatria Badung dan pergi ke utara, menetap di daerah Pengastulan, Buleleng. Di sana silsilah mereka terus terjaga hingga generasi ke-7 dan seterusnya hingga kini.
Sebagai pemahaman yang penting, gelar Nararya Dalem memiliki makna yang sangat dalam, yaitu keturunan darah raja yang kemudian diangkat menjadi Arya atau bangsawan pemimpin. Sedangkan nama Tegeh Kori sendiri bermakna "yang diambil atau diangkat dari tempat yang tinggi", mencerminkan asal-usul beliau yang benar-benar berasal dari lingkungan istana.
Hingga saat ini, warisan leluhur tersebut terus dipelihara dengan sangat baik. Pusat kehidupan spiritual dan pemujaan trah ini bertempat di Pura Dalem Benculuk yang berfungsi sebagai purusha (laki-laki/inti) dan Pura Batursari sebagai pradana (perempuan/energi), keduanya terletak di Kelurahan Tonja. Penetapan ini diperkuat melalui Pesamuan Agung pada tanggal 9 September 2010.
Naskah-naskah asli yang menceritakan kehebatan mereka pun masih tersimpan dengan aman, baik di Museum Gedong Kirtya, di lingkungan puri-puri keluarga, maupun di tempat penyimpanan dadia di Pengastulan, menjadi bukti abadi bahwa darah biru dan semangat kepahlawanan terus mengalir kuat.
Komentar