Jejak Kyai Gusti Agung Pasek Gelgel dalam Naskah dan Sejarah
Jejak Kyai Gusti Agung Pasek Gelgel dalam Naskah dan Sejarah
Kisah mengenai sosok Kyai Gusti Agung Pasek Gelgel merupakan babad yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Bali, khususnya pada masa transisi dari era Kerajaan Bedahulu menuju masa kejayaan Kerajaan Gelgel. Beliau adalah tokoh sentral yang peran dan kiprahnya terekam jelas dalam berbagai naskah kuno. Dari sekian banyak sumber tertulis yang ada, terdapat empat rujukan utama yang menjadi pilar utama dalam memahami silsilah, peran, dan warisan yang ditinggalkan oleh keluarga besar Pasek Gelgel.
Sumber pertama dan yang menjadi dasar utama adalah Lontar Kawitan Pasek Gelgel. Naskah berharga ini merupakan bagian dari koleksi Balai Bahasa Provinsi Bali yang telah didokumentasikan melalui program WikiLontar pada tahun 2021. Di dalam lembaran lontar ini, terurai dengan runtut asal-usul genealogis keluarga Pasek Gelgel. Silsilah ini ditelusuri jauh ke masa lampau, dimulai dari Mpu Wittadarma, kemudian berlanjut kepada Mpu Wiradarma, Mpu Lampita, hingga kepada dua tokoh besar yaitu Mpu Kuturan dan Mpu Bharadah. Tidak hanya itu, naskah ini juga mencatat garis keturunan dari Mpu Nuada di Silayukti yang melahirkan Mpu Jiwaksara, Mpu Ketek, dan Mpu Tatar, yang akhirnya bermuara hingga pada kelahiran Ki Pasek Gelgel beserta saudara-saudaranya. Selain catatan darah dan keturunan, lontar ini juga memuat dengan jelas tentang konsep Catur Warna dan pelaksanaan PaƱca Yadnya yang menjadi landasan kehidupan spiritual dan sosial warga Pasek hingga saat ini.
Sumber kedua yang tak kalah penting termuat dalam Babad Ki Patih Ulung atau yang juga dikenal sebagai Babad Pasek Gelgel. Naskah ini mengungkapkan sebuah fakta sejarah yang sangat berharga, yaitu bahwa sosok Ki Patih Ulung sesungguhnya adalah sosok yang sama dengan Kyai Gusti Agung Pasek Gelgel I, yang juga bernama asli Mpu Jiwaksara. Di dalamnya diceritakan bahwa beliau adalah putra dari Mpu Dwijaksara II, diperkirakan lahir sekitar tahun 1300 Masehi. Karier beliau sangat gemilang ketika diangkat menjadi Patih Amengku Bumi di Kerajaan Gelgel pada masa pemerintahan Sri Astasura Ratna Bumi Banten dari Kerajaan Bedahulu, dengan menyandang gelar kehormatan Ki Patih Ulung.
Kehidupan pribadinya pun terekam jelas; beliau memiliki dua orang istri, yaitu Ni Gusti Luh Toh Jiwa di Gelgel dan Luh Madri di Tampurhyang. Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai empat orang anak, di antaranya adalah Gusti Smaranata yang kemudian meneruskan tahta sebagai Kyai Gusti Agung Pasek Gelgel II, serta Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas. Babad ini juga menegaskan bahwa gelar "Kyai Gusti Agung Pasek Gelgel" sebenarnya bukanlah nama pribadi satu orang saja, melainkan sebuah gelar atau jabatan kehormatan yang disandang oleh keluarga Pasek yang dipercaya memegang tampuk pemerintahan di Ke-Adipatian Bali. Masa jabatan dan pengaruh gelar ini akhirnya mengalami perubahan struktur setelah adanya restrukturisasi kasta yang dilakukan oleh Dang Hyang Nirartha pada masa Dalem Waturenggong.
Selain tertulis di atas daun lontar, bukti otentik keberadaan dan pengakuan kerajaan terhadap keluarga ini juga tertuang dalam Prasasti Pura Kawitan Pasek Gelgel yang terletak di Gelgel, Klungkung. Di tempat suci ini terdapat dua buah prasasti yang menjadi saksi bisu kekuasaan masa lalu. Yang pertama adalah Prasasti Tembaga berupa piagam atau surat keputusan Raja Gelgel yang diberikan khusus kepada I Gusti Dauh Bale Agung. Sedangkan yang kedua adalah Prasasti Perak, sebuah piagam kerajaan yang menegaskan penunjukan keluarga Pasek Gelgel sebagai pemangku atau penjaga Pura Dasar Buana Gelgel secara turun-temurun, sebuah amanah yang sangat besar dan luhur.
Warisan ajaran dan petuah leluhur juga terjaga dengan baik dalam naskah yang dikenal sebagai Bhisama Bhatara Kawitan Pasek Gelgel. Teks ini berisi pesan sakti atau wasiat dari Ida Bhatara Lingsir Pasek Gelgel untuk seluruh keturunannya. Terdapat kutipan yang sangat terkenal berbunyi: "pratisentananingsun kabeh, nira bhatara lingsir pasek gelgel maweh sesuluh dening pasek ngarannya pelaksana sesana kawitan...". Makna yang terkandung di dalamnya sangat dalam, yaitu menegaskan bahwa seluruh keturunan Pasek adalah pelaksana sesana kawitan, yakni orang-orang yang memegang teguh tradisi leluhur dan mengemban amanah serta perintah dari raja-raja terdahulu.
Sebagai penutup catatan sejarah, tercatat dengan jelas jasa terbesar Kyai Gusti Agung Pasek Gelgel adalah peran vitalnya dalam menyelamatkan dan menata kembali kehidupan di Bali setelah runtuhnya Kerajaan Bedahulu pada tahun 1343. Atas kepercayaan yang diberikan oleh Patih Gajah Mada dari Majapahit, beliau bersama Mpu Dwijaksara II diutus khusus untuk datang ke Bali guna menata kembali parhyangan atau tempat-tempat suci serta mengatur kembali tatanan kehidupan masyarakat yang sempat kacau, menjadikan beliau sebagai pahlawan pembangun yang namanya akan terus dikenang sepanjang masa.
Komentar