Jejak Kejayaan Kerajaan Dalem Sukawati.

Jejak Kejayaan Kerajaan Dalem Sukawati
 
Setelah masa gemilang Kerajaan Gelgel berlalu, tampillah wilayah Sukawati sebagai pusat pemerintahan baru yang sangat berpengaruh dalam sejarah Bali. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak sekali naskah kuno atau lontar yang mencatat perjalanan sejarah kerajaan ini. Dari sekian banyak sumber yang ada, terdapat beberapa rujukan utama yang menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu di tanah Sukawati.
 
Sumber yang paling tua dan mendasar tertuang dalam Lontar Babad Pulasari, yang juga sering dikenal dengan sebutan Babad Dalem Tarukan. Naskah berharga ini tersimpan rapi di Kapustakaan Kantor Dokumentasi Budaya Bali yang terletak di Desa Sukawati sendiri dan telah didokumentasikan dalam program WikiLontar tahun 2021. Di dalam kolofon atau catatan penutupnya, tertulis kalimat kuno yang sangat bersejarah: “ikipaṅakṣamane idaratu, gunuŋlampuyaŋ, ṅiŋtolaṅkiŕ, irikosawijilhidā dal̥m samplaṅan, ida dal̥m tarukan...”. Tulisan ini mengaitkan erat garis keturunan Dalem Sukawati dengan Dinasti Samplangan, Dalem Tarukan, serta kekuatan spiritual Gunung Lempuyang atau Tolangkir. Menariknya, lontar ini ditulis pada tahun Saka 666, menjadikannya salah satu naskah tertua yang merekam asal-usul wangsa ini.
 
Selain naskah kuno tersebut, terdapat pula catatan sejarah yang lebih spesifik berupa Babad Dalem Sukawati. Di dalamnya tercatat dengan jelas nama-nama raja dan peristiwa penting. Sosok pertama yang menjadi tonggak sejarah adalah Sri Aji Maha Sirikan atau dikenal sebagai Raja Sukawati I yang memerintah pada tahun 1710–1745 Masehi. Beliau yang bernama asli Dewa Agung Anom Sirikan ini dikenal sebagai pembangun yang hebat. Setelah berhasil menaklukkan Ki Balian Batur, beliau membangun Puri Grokgak di wilayah Baturan/Batuan pada tahun 1710 dan juga mendirikan Pura Penataran Agung. Pada masa inilah nama Desa Timbul berubah menjadi Sukahati yang kemudian lebih dikenal sebagai Sukawati. Beliau memerintah dengan gelar Dhalem Sukawati dan memiliki pusaka sakti bernama Ki Pengasih Jagat serta Ki Segara Anglayang yang didapatkan di Pantai Purnama. Setelah wafat, beliau distanakan di Meru tumpang tiga di Pemerajan Agung Sukawati dengan gelar kehormatan Bhatari Mutering Jagat.
 
Kisah kemudian berlanjut pada masa pemerintahan Dewa Agung Gede (1770–1790 M). Masa ini ditandai dengan perselisihan internal dengan saudaranya, Dewa Agung Made, yang memicu pertikaian antara laskar Padang Tegal melawan pasukan Taman. Untuk memperkuat cengkeraman kekuasaan dan menjaga wilayah, Dewa Agung Gede kemudian menempatkan adik-adiknya di daerah-daerah strategis; Cokorda Ngurah di Tabanan dan Peliatan, Cokorda Tangkeban di Ubud, serta Cokorda Gunung di Petulu. Langkah ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh kekuasaan keluarga Dalem Sukawati saat itu.
 
Nama besar Dalem Sukawati juga sering muncul berseliweran dalam naskah-naskah besar lainnya seperti Babad Pasek dan Babad Bali. Hubungan diplomatik dan sosial dengan trah Pasek, Arya, maupun kaum Brahmana terekam dengan baik. Selain itu, dalam Babad Blahbatuh dan Babad Mengwi juga disebutkan bahwa wilayah Sukawati pada awalnya merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Mengwi sebelum akhirnya berdiri sendiri sebagai kerajaan yang merdeka dan berdaulat.
 
Tidak hanya tentang raja dan peperangan, nilai spiritual juga terekam dalam Lontar tentang Pura Dalem Celuk, Sukawati. Naskah ini membahas latar belakang mitologis berdirinya pura-pura di wilayah tersebut, yang sering mengutip ajaran dari Babad Pasek mengenai penciptaan alam semesta, mulai dari Sang Hyang Embang, munculnya Ong Kara, hingga terwujudnya Purusa Predana dan Tri Purusa.
 
Hingga saat ini, warisan leluhur tersebut terus dijaga dengan baik. Pura Kawitan Dalem Sukawati yang terletak di wilayah Sukawati menjadi pusat pemujaan yang diempon atau dijaga langsung oleh keturunan raja-raja tersebut. Naskah asli seperti Babad Pulasari pun masih terawat sempurna, terdiri dari 93 lembar dengan panjang 35 cm, yang ditulis menggunakan bahasa Kawi, menjadi bukti abadi bahwa peradaban yang tinggi pernah bersinar terang di bumi Sukawati.

Komentar