Jejak Kehormatan Arya Kubon Tubuh
Jejak Kehormatan Arya Kubon Tubuh.
Dalam sejarah kejayaan Kerajaan Gelgel, nama Arya Kubon Tubuh tercatat dengan sangat gagah berani. Beliau adalah tokoh sentral dari trah besar Arya Kutawaringin yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk negara dan raja. Berbagai naskah kuno dan lontar telah merekam dengan detail perjalanan hidup, kehebatan, dan silsilah keluarga yang sangat dihormati ini.
Sumber utama yang menjadi rujukan paling lengkap tertuang dalam Lontar Babad Sira Arya Kutawaringin – Kubontubuh. Naskah ini terdiri dari 92 lembar aksara Bali dan telah dicetak ulang pada edisi II tahun 2007. Di dalamnya diceritakan bahwa sosok yang dikenal sebagai Kyayi Lurah Kubon Tubuh diangkat menjadi Adipati atau perdana menteri utama pada masa pemerintahan Dalem Bekung, sekitar tahun 1550–1580 Masehi. Beliau memegang tampuk kekuasaan bersama dengan Patih Nginte, dan memiliki tiga orang putra yang kelak juga menjadi penerus garis keturunan yang kuat, yaitu Kyayi Lurah Abian Tubuh, Kyayi Madya Karang, dan Winiayu Candi Dyana.
Namanya semakin harum karena jasa kepahlawanan yang luar biasa. Pada tahun 1556 Masehi, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Batan Jeruk yang berhasil menangkap Dalem Bekung. Dengan keberanian yang luar biasa, Kyayi Kubon Kelapa dan Kyayi Lurah Kubon Tubuh memimpin pasukan untuk membebaskan sang raja. Mereka berhasil menjebol tembok keraton melalui rumah Penulisan dan dengan selamat membawa Dalem ke tempat yang aman di Pekandelan. Tidak berhenti sampai di situ, beliau pun memimpin pengejaran hingga berhasil menghabisi pemberontak Batan Jeruk di daerah Bungaya.
Kisah kehebatan beliau tidak hanya dalam medan perang melawan manusia, tetapi juga melawan alam liar. Dalam Lontar Babad Arya diceritakan bahwa Kiyai Kubon Tubuh pernah diutus oleh Dalem Sri Semara Kepakisan menuju ke Blambangan. Tugasnya sangat berat, yaitu membunuh seekor harimau hitam yang sangat ganas dan menjadi momok bagi rakyat. Berkat kesaktian dan keberaniannya, tugas suci itu berhasil diselesaikan dengan gemilang.
Sebagai tanda penghargaan yang sangat besar atas jasa tersebut, sang Raja memberikan anugerah istimewa. Keluarga beliau diberi hak istimewa saat upacara ngaben, boleh menggunakan bade atau wadah pembakaran bertingkat tujuh, kapas sembilan warna, balai silunglung, dan kajang kawitan. Bahkan petulangan atau tempat menyimpan jenazahnya pun berbentuk harimau hitam. Pusaka sakti berupa sumpitan bernama Ki Macan Guguh yang dipakai untuk membunuh harimau tersebut hingga kini masih tersimpan baik dan dirawat oleh para keturunannya.
Silsilah keluarga ini sangat panjang dan tercatat rapi dalam Babad Dalem dan Babad Gelgel. Diketahui bahwa Kyayi Lurah Abian Tubuh adalah ayah dari Kyayi Lurah Kubon Kelapa, dan kemudian Kyayi Lurah Kubon Tubuh lah yang menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Adipati. Garis keturunan ini semakin kuat ketika terjadi penyatuan melalui pernikahan antara Kyayi Wandira Wira dengan Winiayu Ketut Tubuh, yang merupakan adik dari Kyayi Lurah Kubon Tubuh, sehingga menyatukan trah Kubon Tubuh dan Kutawaringin menjadi satu.
Di masa yang kemudian, nama besar keluarga ini juga muncul dalam Babad Keramas. Disebutkan bahwa Bandesa Nyanyap atau yang juga dikenal sebagai Kyayi Kubon Tubuh Karo sangat setia mendampingi Kyayi Agung Dimade atau I Gusti Agung Maruti pada masa konflik tahun 1667–1686 M. Sebagai hadiah kesetiaan, beliau diberi hadiah istri bernama Ni Gusti Mambal yang kemudian melahirkan penerus trah bernama Bandesa Gde Miber.
Perlu diketahui bahwa nama-nama seperti Kyayi Lurah Kubon Tubuh, Kyayi Kubon Kelapa, hingga Bandesa Nyanyap adalah gelar bagi generasi yang berbeda namun masih berada dalam satu ikatan darah yang sama. Hingga saat ini, warisan leluhur terus dijaga dengan kokoh. Para keturunannya memiliki kewajiban menyungsung Merajan Salonding dan Pura Dalem Puri di kompleks Pura Besakih.
Organisasi kekeluargaan pun masih sangat aktif melalui wadah Pasemetonan Prati Sentana Sira Arya Kubon Tubuh Kuthawaringin. Naskah-naskah berharga ini masih tersimpan dengan baik di Gedong Kirtya, Perpustakaan Lontar Universitas Udayana, dan di lingkungan puri-puri keluarga, menjadi bukti abadi bahwa darah keprajuritan dan kesetiaan masih terus mengalir kental.
Komentar