Jejak Dalem Tarukan.
Jejak Dalem Tarukan.
Dalam lembaran sejarah panjang kerajaan di Bali, kisah mengenai Dalem Tarukan menyimpan catatan yang penuh dengan kemuliaan, namun juga diwarnai oleh peristiwa tragis dan perjalanan panjang yang menguras air mata. Beliau adalah putra kedua dari raja besar Dalem Sri Kresna Kepakisan. Sebagai saudara kandung dari Dalem Agra Samprangan, Dalem Ketut Ngulesir, dan I Dewa Tegalbesung, beliau tumbuh menjadi sosok yang sangat dihormati dan memiliki kedudukan tinggi di istana.
Sumber utama yang merekam riwayat hidup beliau tertuang dalam Lontar Babad Dalem Tarukan dan Babad Pulasari. Disebutkan bahwa setelah kakaknya, Dalem Arga Samprangan, naik tahta menjadi raja, Dalem Tarukan dipercaya untuk memimpin dan membangun puri di wilayah Pejeng, Tarukan, Gianyar. Di sanalah awalnya beliau hidup dengan tenang dan penuh wibawa, dikaruniai istri-istri yang mulia seperti Dedari Lempuyang Madya dan Gusti Ayu Kwaji, serta memiliki tujuh orang putra yang gagah berani, yaitu I Gusti Gde Sekar, I Gusti Gde Pulasari, I Gusti Gde Bandem, dan saudara-saudaranya yang lain.
Namun, takdir berkata lain. Terjadilah sebuah konflik besar yang mengubah seluruh sejarah hidupnya. Dalem Tarukan menikahkan anak angkatnya bernama Kuda Pinandang Kajar dengan Dewa Ayu Muter, putri dari Dalem Samprangan, tanpa terlebih dahulu meminta izin secara resmi. Perbuatan ini dianggap melanggar tata krama istana yang sangat tinggi, sehingga memicu kemurkaan besar sang raja.
Pada tahun 1377 Masehi atau 1299 Saka, Dalem Samprangan mengirimkan pasukan besar berjumlah 3.000 orang untuk menyerang dan menghancurkan Puri Tarukan. Terpojok dan tidak mampu melawan kekuatan besar tersebut, Dalem Tarukan pun mengambil keputusan berat untuk "nyineb wangsa" atau menyembunyikan identitas keluarga, lalu melarikan diri demi menyelamatkan nyawa dan keturunannya.
Perjalanan pengungsian itu sangat panjang dan penuh penderitaan. Beliau beserta keluarga berpindah-pindah tempat, mulai dari Taro, Subak Pulesari Tembuku, Padukuhan Pantunan, Poh Tegeh Songan, Dukuh Bunga, Sekahan, Panulisan, Balingkang, Sukawana, hingga akhirnya sampai dan menetap di tempat yang aman bernama Pulasari, di wilayah Bangli.
Dalam pelarian yang penuh bahaya itu, terdapat peristiwa ajaib yang menjadi titik balik keselamatan mereka. Di daerah Pantunan, nyawa mereka terselamatkan berkat adanya burung puyuh, burung perkutut, serta tanaman Jawa Jali dan rimbunan pisang yang menyembunyikan keberadaan mereka. Karena rasa syukur dan terharu yang mendalam, Dalem Tarukan pun mengucapkan bhisama atau janji suci yang abadi bagi seluruh keturunannya:
"...nah iba kedis titiran, kedis puwuh muah jawa jali deni jati iba makrana kai idup nah jani seenyah-enyah aku apang sing dadi amangsa iba..."
Artinya, berkat bantuan makhluk-makhluk dan tumbuhan itulah beliau masih hidup, maka selamanya keturunannya dilarang keras untuk memakan burung puyuh, burung perkutut, dan biji atau tanaman Jawa Jali sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih yang tak terhingga.
Akhir hayat beliau tiba pada hari Kamis Kliwon wara Ukir, tanggal 7 bulan Kedasa, Isaka 1321 atau bertepatan dengan April 1399 Masehi, di tempat peristirahatan terakhirnya di Pulasari. Upacara pengebumiannya dilakukan dengan sangat megah menggunakan bade atau wadah pembakaran bertingkat tujuh, dan dihiasi dengan kajang atau tenda khas bernama Kajang Pulasari.
Sebagai penghormatan atas darah biru dan penderitaan yang dialami, para keturunan Dalem Tarukan diberikan hak istimewa dalam upacara. Mereka berhak menggunakan atribut kebesaran seperti bade tumpang 7, padma terawang, banusa bambu kuning, ma-jempana, bale silunglung, dan berbagai perlengkapan suci lainnya yang menunjukkan status mereka yang sangat tinggi.
Hingga saat ini, warisan leluhur tersebut terus dijaga dengan sangat sakral. Pusat pemujaan atau Pura Kawitan mereka berdiri kokoh di Pura Kawitan Puri Agung Dalem Tarukan di Pejeng, Gianyar, serta di Pura Dalem Pulasari di Tembuku, Bangli, tempat beliau mencapai moksa. Naskah-naskah berharga yang menceritakan kisah pilu namun agung ini masih tersimpan rapi di Gedong Kirtya, kantor kebudayaan, dan di seluruh griya-griya keluarga Tarukan, menjadi bukti abadi bahwa meskipun pernah tersingkir, kemuliaan darah raja tidak akan pernah pudar.
Komentar