Jejak Bujangga Waisnawa dalam Sejarah Spiritual Bali.

Jejak Bujangga Waisnawa dalam Sejarah Spiritual Bali
 
Dalam khazanah keagamaan dan tradisi leluhur di Bali, keberadaan trah Bujangga Waisnawa memiliki kedudukan yang sangat istimewa dan sakral. Mereka merupakan bagian dari kelompok suci yang dikenal sebagai Tri Sadaka, bersanding bersama kelompok Siwa dan Boda, yang bersama-sama memegang tanggung jawab besar dalam menjaga keseimbangan spiritual alam semesta. Berbagai lontar kuno mencatat dengan jelas asal-usul, tugas, dan peran mulia mereka sejak zaman dahulu kala.
 
Sumber utama yang menceritakan tentang kelahiran dan perkembangan trah ini tertuang dalam Lontar Resi Waisnawa. Di dalamnya dijelaskan bahwa sejarah ini bermula dari zaman Raja Airlangga di Jawa, ketika aliran Siwa dan Buda mulai disatukan. Kemudian, ketika ajaran agama dibawa ke Bali, Mpu Kuturan membawa paham Siwa, sementara Mpu Bharadah membawa paham Buda. Mpu Kuturan sendiri dikenal menganut aliran Siwa Waisnawa.
 
Pada masa pemerintahan Jayapangus tahun 1103 Saka, datang pula Mpu Gantaya dan Resi Aruna yang juga memegang teguh paham Siwa Waisnawa. Seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan penyebutan dan peran; Resi Waisnawa berubah menjadi Sangguhu Waisnawa, Siwa Pasupati menjadi Brahmana, dan Buda Mahayana menjadi Boda. Anak-anak dari garis keturunan Siwa Waisnawa inilah yang kemudian dikenal sebagai Sangguhu Bujangga, yang memiliki tugas khusus dalam upacara keagamaan.
 
Tugas dan wewenang mereka sangat jelas terbagi dalam konsep Tri Sadaka: Kelompok Siwa bertugas menyucikan angkasa atau wilayah para dewa, kelompok Boda bertugas menyucikan air dan para leluhur (pitara), sedangkan Bujangga Waisnawa memiliki tugas mulia untuk menyucikan tanah atau pertiwi, serta menangani upacara yang berkaitan dengan Dewa dan Butakala.
 
Hal ini diperkuat oleh catatan dalam Lontar Eka Pratama yang menyebutkan secara spesifik fungsi mereka:
 
"Sang bhujangga tinuduh amerastita ikang rat muwang sarwa tumuwuh... Sang bhujangga asikep Gni Sara, angentas sarwa letuh ikang buwana, karang tenget, setra, sawah, wates, manak buncing..."
 
Artinya, Bujangga ditugaskan untuk memastikan kesuburan bumi dan segala yang tumbuh di atasnya. Mereka menggunakan ilmu Gni Sara untuk membersihkan atau ngentas segala kekotoran yang ada di bumi, baik itu di tanah makam, pekarangan, sawah, maupun batas-batas wilayah, sehingga menjadi suci dan layak dihuni.
 
Dalam struktur keagamaan, posisi mereka dijelaskan dalam Lontar Tri Lingga Siwa Sasana. Disebutkan bahwa dalam hierarki Tri Lingga, Brahmana Siwa berada di posisi utama, Boda di posisi menengah, dan Guru Bhujangga di posisi ketiga. Namun demikian, ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dan sangat dihormati. Lebih jauh lagi, dalam Lontar Bhuwana Tattwa tercatat kisah sejarah yang cukup terkenal, yaitu ketika I Dewa Ularan berguru kepada Bhujangga Waisnawa, sementara yang lain berguru kepada golongan berbeda. Kisah ini bahkan berujung pada pernikahan antara Bhujangga Waisnawa dengan I Dewa Ayu Laksmi yang sempat memicu kemurkaan Dalem Waturenggong, hingga akhirnya sang Bhujangga menghilang menuju Gunung Sari.
 
Lebih rinci lagi, Lontar Kerta Bujangga membagi kelompok Bujangga menjadi tiga, yaitu Bujangga Sugata, Bujangga Siwa, dan Bujangga Waisnawa yang memiliki keterkaitan erat dengan ajaran Rsi Markandeya. Konsep ini juga selaras dengan yang tertulis dalam Rontal Purwa Bumi Tuwa dan Rontal Bancangah Maospahit yang menyebutkan bahwa dalam wujud duniawi, Sang Trini (Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa) menjelma menjadi Tri Sadaka: Sang Brahmana Siwa, Sang Bodda, dan Sang Bhujangga.
 
Sebagai warisan ajaran yang sangat berharga, terdapat Bisama atau wasiat dari Mpu Kuturan tahun 1007 Masehi yang berbunyi:
 
"Muwah yan ana letuh-letuhing jagat, wenang ya tinebas... linukat de Sang Bhujangga"
 
Yang artinya, apabila ada kekotoran atau gangguan di dunia ini, maka berhak ditebas dan dibersihkan oleh Sang Bhujangga. Ini menunjukkan betapa besar wewenang dan kepercayaan yang diberikan kepada trah ini sejak ribuan tahun lalu.
 
Hingga saat ini, jejak kebesaran Bujangga Waisnawa masih sangat terjaga. Pusat pemujaan atau Pura Kawitan mereka dapat ditemukan di berbagai tempat suci seperti Pura Luhur Bujangga Waisnawa di Jatiluwih Tabanan, serta di Pura Segara Canggu dan Pura Batu Bolong. Naskah-naskah lontar asli yang membahas tentang mereka pun masih tersimpan dengan baik di Gedong Kirtya Singaraja, terawat rapi dalam klasifikasi Weda, Mantra, Kalpasastra, dan Babad, menjadi bukti abadi bahwa tugas menyucikan bumi ini terus diemban dengan setia hingga generasi sekarang.

Komentar