Jejak Bendesa Manik Mas dalam Sejarah Bali.

Jejak Bendesa Manik Mas dalam Sejarah Bali.
 
Dalam peta sejarah dan silsilah di Bali, nama Bendesa Manik Mas memiliki kedudukan yang sangat sentral dan terhormat. Hal ini terbukti dari banyaknya naskah kuno atau lontar yang membahas tentang trah ini, mencerminkan betapa besar pengaruh mereka mulai dari era pengaruh Majapahit hingga masa kejayaan Kerajaan Gelgel. Dari sekian banyak sumber yang ada, terdapat beberapa rujukan utama yang menjadi pilar utama dalam memahami sejarah, silsilah, dan warisan leluhur keluarga besar ini.
 
Sumber yang paling mendasar dan menjadi induk adalah Lontar Babad Bendesa Manik Mas atau yang dikenal juga dengan judul Purana Wangsa Bandesa Manik Mas. Di dalam naskah ini tertulis dengan sangat sakral mengenai panugrahan atau anugerah yang diberikan oleh Ida Dhang Hyang Dwi Jendra kepada Bandesa Manik Mas beserta seluruh keturunannya, lengkap dengan mantra-mantra sakti seperti pawintenan dan petanganan yang berbunyi: "Ong Ung Rah Phat Astra Ya namah, Ong atma tatwatma sudhamam swaha...".
 
Selain mantra suci, di dalamnya juga tercatat Bhisama atau wasiat dari Bhatara Sakti Wahurawuh yang mengatur hak dan tata cara upacara trilaksana saat ngaben, mulai dari penggunaan menggunung pitu, ancak taman, kapas berwarna-warni, hingga aturan mengenai bangunan dan sesajen. Dari sisi silsilah, lontar ini mencatat garis keturunan yang jelas bermula dari Mpu Jiwaksara atau yang dikenal sebagai Ki Patih Ulung, yang kemudian menurunkan I Gusti Bandesa Manik dan seterusnya menjadi I Gusti Bandesa Mas.
 
Sumber kedua yang tak kalah penting adalah versi yang tercatat dalam Babad Bendesa Manik Mas – versi Puri Pemecutan. Naskah ini mengaitkan trah ini dengan leluhur besar Sapta Rsi. Disebutkan bahwa Mpu Ghni Jaya Sakti memiliki tujuh orang putra, salah satunya adalah Mpu Wita Dharma. Garis keturunan ini kemudian berlanjut melalui Mpu Bajra Sandi Wira Dharma, Mpu Lampitha, Mpu Dwijaksara, hingga lahirlah Mpu Jiwaksara atau Ki Patih Wulung. Beliau kemudian pindah ke wilayah Bali Madya dan diangkat menjadi Kiyayi Pangeran Bendesa Manik Mas pada tahun Saka 1246, di masa pemerintahan Sri Aji Tapa Wulung dari Kerajaan Bedahulu.
 
Kisah awal mula trah ini juga terekam jelas dalam naskah Iti Jasat Bandesa Manik Mas dan Piagem Pasek Tatar. Disebutkan bahwa pada periode sebelum kedatangan Danghyang Nirartha ke Bali, terdapat silsilah Pangeran Kayu Mas dan Pangeran Mas yang menikah dengan Luh Manik. Dari pernikahan inilah lahirlah Kyayi Manik Mas, Kyayi Gading Gede Tengah, dan Luh Kayu Mas, yang menjadi cikal bakal penyebaran keluarga ini.
 
Salah satu peristiwa paling bersejarah yang melibatkan trah ini tertulis dalam Lontar Bendesa Mas. Diceritakan bahwa sosok suci Danghyang Nirartha pernah diundang oleh Ki Pangeran Bendesa Manik Mas I ke wilayah Bumi Mas. Di sana, Pangeran Mas memerintahkan pembangunan pasraman dan tempat pemandian suci untuk sang pendeta. Sebagai bentuk penghormatan yang sangat tinggi, Pangeran Mas juga mempersembahkan putrinya yang bernama Gusti Nyoman Manik Mas Genitri untuk menjadi pendamping Danghyang Nirartha. Dari hasil pernikahan tersebut lahirlah Ida Bokcabe atau Ida Putu Kidul yang kemudian menjadi cikal bakal Brahmana Mas. Sebagai bukti kebesaran beliau, Pura Taman Pule dan Pura Bok Cabe pun dibangun di wilayah tersebut.
 
Penyebaran trah ini juga terekam dalam Babad Bandesa Selat. Diceritakan bahwa pada tahun 1835, Ki Bandesa Selat dari Tamanbali mendapat perintah dari Raja Gianyar untuk mengumpulkan kembali saudara-saudara seketurunan yang tersebar di seluruh Bali agar kembali ke pusat di Mas. Surat-surat lontar pun dimasukkan ke dalam bungbung bambu dan diedarkan bersama 50 orang pengikut untuk menjemput sanak saudara tersebut.
 
Secara garis besar, perjalanan sejarah trah Bendesa Manik Mas dapat dibagi menjadi tiga tahapan penting. Tahap pertama adalah sebelum abad ke-14, bermula dari keturunan Sri Kesari Warmadewa hingga menjadi Pageran Mas/Kayu Mas. Tahap kedua adalah sebelum masa Danghyang Nirartha, di mana garis keturunan bersatu melalui pernikahan Pangeran Mas dan Luh Manik. Namun, tonggak sejarah yang paling utama adalah ketika Mpu Jiwaksara atau Ki Patih Ulung diangkat menjadi Mahapatih di Bali pada tahun 1343, menjadikan wilayah Mas sebagai pusat pemerintahan dan menyandang gelar mulia Kyayi Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas.
 
Hingga hari ini, warisan naskah-naskah berharga ini masih tersimpan dengan baik di berbagai tempat suci seperti Gedong Kirtya, Pura Taman Pule Mas, Pura Buk Cabe, serta dirawat oleh para penglingsir keluarga. Di era modern, sejarah ini juga telah dibukukan secara lengkap dalam karya Purana Wangsa Mas di Samu karya Ida Bagus Bajra pada tahun 2020, agar generasi penerus senantiasa mengenang asal-usul yang luhur.

Komentar