Jejak Arya Kepakisan dalam Naskah Lontar dan Sejarah Bali

Jejak Arya Kepakisan dalam Naskah Lontar dan Sejarah Bali

Keberadaan tokoh besar dalam sejarah Nusantara selalu tercatat dengan rapi dalam warisan naskah kuno, begitu pula dengan sosok Arya Kepakisan. Beliau merupakan figur sentral yang sangat berpengaruh pada masa pemerintahan Dalem Samprangan dan Kerajaan Gelgel, sehingga tidak mengherankan jika jumlah lontar maupun babad yang membahas tentang beliau sangatlah banyak dan beragam. Dari sekian banyak sumber yang ada, terdapat beberapa naskah utama yang paling sering dijadikan rujukan utama untuk menelusuri jejak kehidupan dan keturunannya.

Sumber pertama dan yang paling mendasar adalah Lontar atau Babad Arya Kepakisan itu sendiri. Naskah khusus ini menceritakan secara runtut garis keturunan dan perjalanan hidup Arya Kepakisan, yang juga dikenal dengan sebutan Soma Kepakisan. Di dalamnya tertulis dengan jelas bahwa beliau adalah putra dari Arya Kediri, cucu dari Raja Jayasaba, serta cicit dari Raja Airlangga yang sangat termasyhur. Kisah kepemimpinan beliau dimulai ketika diutus oleh Patih Gajah Mada pada tahun 1357 bersama Dalem Sri Kresna Kepakisan untuk menertibkan dan memadamkan pemberontakan di 39 desa Baliaga. Setelah tugas tersebut selesai, Arya Kepakisan menjabat sebagai Patih Agung yang mendampingi raja berkuasa di pusat pemerintahan Samprangan. Beliau bermukim di tempat yang bernama Puri Nyuh Aya, sehingga sering pula disapa dengan gelar kehormatan Pangeran Nyuh Aya atau Ida Dewa Nyuh Aya. Nama "Kepakisan" sendiri memiliki makna filosofis yang dalam, berasal dari kata pakis yang berarti paku, yang melambangkan kedudukan beliau yang "dipakukan" atau ditegakkan dengan kokoh menjadi pemimpin oleh Mpu Dang Guru.

Selain naskah khusus tersebut, kisah beliau juga terekam kuat dalam Babad Dalem yang disusun oleh Drs. Ida Bagus Rai Putra. Babad ini menyoroti hubungan erat antara Dalem Sri Kresna Kepakisan dengan Arya Kepakisan sebagai tangan kanan dan Patih Agung yang setia. Sumber ini juga memperkuat catatan mengenai asal-usul beliau dari Desa Pakis serta kedudukan strategisnya di wilayah Nyuhaya. Lebih jauh lagi, kajian modern pun terus dilakukan, seperti yang tertuang dalam karya terbaru tahun 2024 berjudul Babad Kiyai Anglurah Lambing. Naskah ini menelusuri rantai keturunan Arya Kresna Kepakisan hingga sampai kepada sosok Kiyai Anglurah Lambing di Puri Lambing, Sibang Kaja, menjadikannya sumber sekunder yang sangat berharga bagi generasi penerus trah Kepakisan.

Bukti otentik mengenai silsilah ini tidak hanya tertulis di atas daun lontar yang digulung, namun juga terpahat kokoh sebagai prasasti atau Pemencangah di Pura Kawitan Arya Kepakisan. Terletak di Pura Kawitan Arya Nyuh Aya, Banjar Sidayu Nyuhaya, Takmung, Klungkung, prasasti ini menjadi saksi bisu yang abadi. Kalimat pembukanya yang sangat terkenal berbunyi: “Mulaning carma ring Bali Sri Arya Kepakisan, Arya Kediri saking Jayasabha, ari saking Aji Jayabhaya, saking Erlanggia...”. Di sana juga tercatat dengan jelas nama-nama tujuh putra beliau, yaitu Petandakan, Satra, Pelangan, Akah, Kloping, Cacaran, dan Anggan, yang kemudian menjadi cikal bakal penyebaran keluarga besar ini di berbagai penjuru daerah.

Penyebaran keturunan yang luas ini juga didokumentasikan dalam naskah lain seperti Silsilah Keturunan Arya Kepakisan Dauh Bale Agung di Giri Emas. Lontar yang telah dibukukan ini khusus menelusuri jejak para penerusnya yang hingga kini bermukim di wilayah Buleleng, meliputi daerah seperti Sangsit, Jagaraga, Jinengdalem, hingga Giri Emas.

Sebagai catatan penting, meskipun terdapat banyak sekali variasi judul dan versi babad yang menyebut nama Arya Kepakisan, namun inti ceritanya selalu konsisten: beliau adalah Patih Agung yang setia mendampingi Dalem Sri Kresna Kepakisan dengan garis keturunan yang sangat jelas. Hingga saat ini, naskah-naskah asli tersebut masih terawat dengan baik dan tersimpan di tempat-tempat terhormat, mulai dari Griya dan Puri keluarga keturunan, hingga di institusi penyimpan naskah besar seperti Gedong Kirtya di Singaraja dan Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana, agar warisan leluhur ini tidak pernah hilang ditelan zaman.

Komentar