Jejak Arya Karang Buncing.

Jejak Arya Karang Buncing.

Dalam catatan sejarah Bali yang paling tua, nama Arya Karang Buncing berdiri tegak sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dari masa Bali Aga atau zaman Bedahulu. Beliau dikenal bukan hanya sebagai pemimpin wilayah yang gagah berani, tetapi juga sebagai ayah kandung dari tokoh legendaris Ki Kebo Iwa, serta mertua dari Ki Pasung Grigis. Keberadaan beliau sering disebut sebagai "tugu akhir Raja Bali", karena merupakan salah satu trah besar terakhir yang bercokol di tanah Bali sebelum gelombang pengaruh Majapahit datang melanda.
 
Sumber utama yang merekam kebesaran beliau tertuang dalam berbagai naskah kuno, salah satunya adalah Lontar Usana Bali. Di dalamnya terdapat bhisama atau wasiat sakti yang ditinggalkan langsung oleh Sri Karang Buncing untuk seluruh keturunannya hingga akhir zaman. Bunyi pesan tersebut sangat tegas dan penuh makna:
 
"Hana pitekenia Kawitan sira Karang Buncing, kita sentanan ingsun makabehan away kita tan eling ring kawitan anyungsung anyiwi ring Pura Karang Buncing, ring Pura Karang Gaduh, makadi ring Lempuyang, yan kita lali, wastu sira anadi jadma sudra jati, rered pabuktianta, mentik, mentik, punggel."
 
Artinya, ada perintah keras dari leluhur agar semua anak cucu tidak pernah melupakan asal-usul. Mereka wajib memuja dan memohon berkah di Pura Karang Buncing, Pura Karang Gaduh, dan juga di Pura Lempuyang. Jika ada yang melalaikan kewajiban suci ini, maka dikutuklah ia akan menjadi orang Sudra yang miskin, rezekinya seret dan selalu terhambat, bagaikan tanaman yang baru tumbuh lalu dipotong dan tidak pernah berbuah.
 
Asal-usul beliau dijelaskan secara rinci dalam Lontar Babad Karang Buncing dan Purana Pura Gaduh yang tersimpan di Blahbatuh. Disebutkan bahwa sosok yang bernama asli Jaya Katong ini memiliki dua orang putra angkat, yaitu Arya Rigis dan Arya Karang Buncing. Karena kepercayaan dan kesetiaannya, Arya Karang Buncing kemudian diberi wilayah kekuasaan di daerah Blahbatuh (dahulu disebut Balahbatu). Beliau memimpin dengan sangat adil dan mendapat anugerah langsung dari Batara Hyang Gnijaya, sehingga wilayah tersebut menjadi makmur dan aman. Di sanalah beliau membangun tempat suci bernama Pura Karang Buncing sebagai pusat pemujaan kepada Hyang Kawitan.
 
Silsilah yang panjang dan luhur juga tercatat dalam Lontar Usana Jawa dan Usana Bali. Jejak darah beliau dapat ditarik kembali hingga ke masa tahun 901 Masehi, di mana Jayakaton menjadi Patih Raja, kemudian menurunkan Arya Rigih, Arya Rigis, Arya Kedi, hingga akhirnya lahirlah Arya Karang Buncing. Ini membuktikan bahwa beliau berasal dari garis keturunan bangsawan dan pemimpin yang sangat tua di Nusantara.
 
Salah satu kisah yang paling menyentuh dan terkenal adalah mengenai kelahiran putranya, yang tertulis dalam Prasasti Pura Maospahit. Diceritakan bahwa Arya Karang Buncing sudah lama menikah namun belum dikaruniai anak, membuat hatinya sangat sedih. Dengan penuh keyakinan, beliau pergi memohon doa restu dan meminta anugerah di Pura Bedugul Gaduh. Doa suci itu didengar oleh Sang Hyang Widhi, dan akhirnya beliau pun dikaruniai seorang putra laki-laki yang sangat tampan dan kuat. Seiring berjalannya waktu, anak tersebut tumbuh dewasa dan kemudian dikenal dengan nama besar Kebo Waruga atau yang lebih populer disebut Ki Kebo Iwa.
 
Setelah masa kerajaan Majapahit masuk dan menata kembali Bali, keturunan Sri Karang Buncing tetap dihormati dan diangkat menjadi pejabat tinggi dengan gelar Arya Karang Buncing atau Gusti Karang Buncing. Hal ini dilakukan demi menjaga stabilitas dan keharmonisan pemerintahan baru, mengingat pengaruh keluarga ini sangat besar di masyarakat adat setempat.
 
Hingga saat ini, warisan leluhur tersebut terus dijaga dengan ketat oleh berbagai kelompok masyarakat seperti Pasek Karang Buncing, Bendesa Karang Buncing, dan Gusti Karang Buncing. Tempat-tempat suci yang wajib disungsung masih berdiri kokoh, yaitu Pura Karang Buncing, Pura Puseh Gaduh di Blahbatuh, serta Pura Lempuyang. Naskah-naskah berharga yang menceritakan kehebatan beliau pun masih tersimpan dengan aman di Gedong Kirtya, di Pura Puseh Gaduh, dan di Desa Adat Gamongan Karangasem, menjadi saksi bisu bahwa darah kepahlawanan dan kesaktian masa lampau masih terus mengalir di dalam diri para keturunannya.

Komentar