Jejak Arya Jelantik dalam Lembaran Sejarah.
Jejak Arya Jelantik dalam Lembaran Sejarah.
Kisah mengenai keturunan Arya Jelantik merupakan salah satu babad yang paling unik dan menarik dalam khazanah sejarah Bali. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa versi catatan yang berbeda mengenai asal-usul dan silsilah beliau, yang mencerminkan luasnya penyebaran dan pengaruh trah ini di berbagai wilayah. Dari sekian banyak naskah yang ada, terdapat beberapa sumber utama yang paling sering dijadikan rujukan oleh para keturunannya hingga saat ini.
Sumber pertama yang sangat otentik adalah Lontar Babad Arya Jelantik. Naskah ini merupakan edisi resmi yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng pada tahun 2006. Di dalamnya diceritakan kisah tentang Arya Jelantik di era Kerajaan Gelgel yang kemudian dikenal dengan sebutan Arya Jelantik Bogol. Nama "Bogol" ini memiliki sejarah yang sangat mendalam, konon bermula dari kutukan atau hukuman mistis di mana leluhurnya berubah menjadi lintah akibat suatu kesalahan, dan untuk membebaskan diri dari ikatan karma tersebut, salah satu keturunannya harus rela gugur di medan perang tanpa membawa senjata.
Kisah perjalanan beliau pun terekam jelas. Sebelum berangkat ke Pasuruan, Arya Jelantik meninggalkan istrinya yang sedang mengandung delapan bulan dengan pesan tegas, jika anak yang lahir laki-laki maka harus diberi nama Arya Jelantik Bogol. Dalam pengembaraannya, beliau singgah di Desa Kubutambahan dan menikah dengan putri dari pemuka adat di Desa Sudaji. Beliau juga pernah dipanggil kembali untuk memimpin pasukan dalam perang melawan Dalem Bungkut yang berasal dari Nusa Penida. Hingga kini, keturunan beliau masih banyak bermukim di Desa Sudaji dan masih mengakui persaudaraan dengan trah Jelantik di Blahbatuh, Gianyar.
Sumber kedua yang tak kalah penting termuat dalam Babad Blahbatuh. Lontar ini secara khusus membahas garis keturunan Gusti Jelantik yang berpusat di wilayah Blahbatuh, Gianyar. Silsilah yang tercatat di sini sangat panjang dan terstruktur, bermula dari Arya Nyuh Aya yang menurunkan Arya Cacaran. Kemudian berlanjut melalui beberapa generasi, mulai dari Krian Pengalasan Peninggungan yang bergelar Ki Gusti Ngurah Jelantik I, hingga kepada Ki Gusti Made Tenganan, I Gusti Ngurah Bogol, dan seterusnya. Yang menjadi catatan utama di sini adalah bahwa leluhur besar Anglurah Jelantik di garis ini adalah Arya Kepakisan, tokoh sentral dalam sejarah Bali.
Hubungan kekerabatan ini juga diperkuat oleh sumber ketiga, yaitu Lontar Kawitan Pasek Gelgel. Meskipun judulnya menyebutkan Pasek Gelgel, namun di dalam naskah koleksi Balai Bahasa Provinsi Bali ini tercatat silsilah yang menghubungkan Ki Pasek Gelgel beserta saudara-saudaranya, termasuk di dalamnya trah Jelantik yang memiliki keterkaitan erat dengan Arya Nyuh Aya. Hal senada juga tertulis dalam Manuskrip Gedong Kirtya Jilid I, yang secara spesifik menceritakan riwayat keluarga Anglurah Jelantik di Blahbatuh, menegaskan kembali bahwa akar silsilah mereka bermula dari Arya Kepakisan, Arya Nyuh Aya, hingga Arya Cacaran. Di sana juga diceritakan bahwa I Gusti Jelantik Bogol memiliki sepuluh orang putra, dan salah satunya bernama I Gusti Ngurah Gede yang kemudian menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Anglurah Jelantik.
Menariknya, jika ditelusuri lebih dalam dari berbagai babad yang ada, terdapat tiga versi utama mengenai asal-usul Arya Jelantik yang berbeda-beda tergantung dari sudut pandang naskahnya. Versi pertama dari Ugrasena Babad menyebutkan beliau berasal dari wangsa Sanjayawamsa, golongan Ksatria Kalingga yang menjadi menteri. Versi kedua dalam Babad Bali Dwipa menyebutkan beliau sebagai putra dari Patih Pasung Grigis dan cucu Danghyang Siddimantra. Sedangkan versi ketiga dari I Dewa Ularan mencatat bahwa beliau adalah putra dari Bre Wengker dan merupakan pendiri Desa Ularan. Ketiga versi ini membuktikan betapa besar dan kayanya sejarah yang menyelimuti trah ini.
Sebagai catatan sejarah tambahan yang sangat penting, nama "Ki Gusti Agung Pasek Gelgel" dan "Arya Jelantik" sering kali muncul berdampingan dalam catatan peristiwa mulai dari era Kerajaan Gelgel sampai masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Penggunaan gelar "I Gusti Agung" pada keluarga Pasek sendiri kemudian mengalami perubahan dan berakhir setelah adanya restrukturisasi kasta yang dilakukan oleh Dang Hyang Nirartha.
Hingga hari ini, warisan naskah-naskah berharga ini masih tersimpan dengan baik dan dapat ditemukan di berbagai tempat pelestarian budaya seperti Gedong Kirtya di Singaraja dan Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana, serta tersimpan sakral di Pura Kawitan masing-masing trah yang tersebar di Blahbatuh, Kubutambahan, dan Sudaji, menjadi bukti abadi bahwa darah kepahlawanan dan kebesaran leluhur masih terus mengalir kental.
Komentar