Jejak Arya Gajah Para.
Jejak Arya Gajah Para.
Dalam catatan sejarah besar Bali, nama Arya Gajah Para tercatat sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh yang datang bersama gelombang kebudayaan Majapahit. Beliau adalah salah satu dari Sembilan Arya utama yang diutus oleh Patih Gajah Mada dalam ekspedisi penyatuan Nusantara pada tahun 1343 Masehi. Karena peran dan sejarahnya yang sangat penting, banyak sekali naskah kuno atau lontar yang membahas tentang beliau, baik yang tersimpan secara fisik maupun yang telah didokumentasikan secara digital.
Sumber yang paling lengkap dan menjadi induk cerita ini tertuang dalam Lontar Babad Arya Gajah Para yang terdiri dari 76 lembar dan kini sudah dapat diakses melalui Wikisource. Di dalamnya diceritakan dengan jelas bahwa Arya Gajah Para adalah putra sulung dari Arya Wayahan Dalem Manyeneng yang berasal dari kerajaan Majapahit. Beliau diutus oleh Gajah Mada untuk menyeberang ke Bali bersama dengan tokoh besar lainnya seperti Arya Damar.
Berdasarkan hasil musyawarah dan strategi saat itu, pasukan yang dipimpin oleh Arya Gajah Para, Krian Pemacekan, dan Krian Getas mendarat di wilayah pesisir timur, tepatnya di tempat yang bernama Toya Anyar. Setelah wilayah Bali berhasil dikuasai dan ditata, demi meredam gejolak dan menjaga keamanan di wilayah timur, beliau bersama Arya Getas kemudian memilih untuk menetap di daerah Sukangeneb, Toya Anyar.
Kisah akhir hayat beliau pun terekam dengan cukup dramatis. Saat menjelang wafat, beliau berpesan kepada cucunya, I Gusti Ngurah Kaler, agar jenazahnya diletakkan di atas panggung di puncak Gunung Mangun selama 42 hari lamanya. Namun, cucunya yang lain yaitu I Gusti Ngurah Tianyar memiliki pendapat berbeda dan tidak menyetujui permintaan tersebut. Sebagai gantinya, I Gusti Ngurah Tianyar langsung mempersiapkan upacara ngaben yang sangat megah dengan menggunakan bade atau wadah pemakaman berjenis tumpang sembilan, sebuah kehormatan besar bagi seorang bangsawan.
Selain naskah induk tersebut, terdapat pula Lontar Arya Gajah Para Bancangah yang terdiri dari 48 halaman dan juga telah didigitalkan. Naskah ini lebih fokus membahas versi silsilah dan penyebaran keturunan. Disebutkan bahwa setelah beliau wafat, sempat terjadi perselisihan atau pertikaian di antara para cucunya. Akibatnya, dua orang janda beserta anak-anak mereka terpaksa harus lari menyelamatkan diri menuju daerah Tanggawisia dan Gelgel. Dari tempat-tempat inilah kemudian garis keturunan Arya Gajah Para menyebar luas ke berbagai desa di seluruh Bali.
Untuk mengetahui akar silsilah yang lebih dalam, kita dapat merujuk pada Babad Arya Kediri. Di sana dijelaskan bahwa leluhur mereka berasal dari sosok bernama Sri Jaya Katha di Tumapel yang memiliki tiga orang putra. Putra yang pertama adalah Arya Wayahan Dalem Manyeneng, yang inilah yang menurunkan Arya Gajah Para dan Sirarya Getas. Putra kedua adalah Sirarya Katanggaran yang menurunkan Arya Kanuruhan, dan putra ketiga bernama Arya Nuddhata. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa Arya Gajah Para berasal dari trah besar Kediri dan merupakan cucu dari Sri Jaya Katha.
Peran beliau sebagai pendamping setia juga tercatat dalam Babad Dalem dan Babad Bali umum, di mana namanya selalu disebut sebagai salah satu pengiring utama Dalem Sri Kresna Kepakisan dalam menata pemerintahan di Bali.
Hingga saat ini, warisan leluhur tersebut terus dijaga melalui tempat-tempat suci yang menjadi pusat pemujaan. Trah Arya Gajah Para memiliki Pura Kawitan yang sangat dihormati, antara lain di Pura Dalem Tenggaling, Pura Puseh Tianyar, dan Pura Er Jeruk yang terletak di wilayah Karangasem. Penyebaran keturunannya kini dapat ditemukan di Tianyar, Tanggawisia, Gelgel, dan berbagai pelosok desa lainnya.
Sebagai catatan tambahan, beliau juga sering disapa dengan gelar kehormatan Sirarya Gajah Para. Sedangkan saudaranya, Sirarya Getas, dikisahkan kemudian menyeberang dan menetap di pulau seberang, yaitu Lombok wilayah Praya. Naskah-naskah berharga ini kini tidak hanya tersimpan rapi di Gedong Kirtya Singaraja dan Perpustakaan Lontar Universitas Udayana, tetapi juga telah aman tersimpan dalam bentuk digital di Wikisource dan Internet Archive agar dapat diakses dan dibaca oleh generasi penerus selamanya.
Komentar