Asal-Usul Arya Wang Bang Pinatih
Asal-Usul Arya Wang Bang Pinatih
Di antara deretan lontar kuno yang menyimpan memori sejarah Bali, terdapat sebuah naskah agung bernama Lontar Babad Arya Wang Bang Pinatih. Ini adalah salah satu babad kawitan yang paling lengkap dan detail, yang menceritakan akar sejarah, perjalanan, dan perkembangan keluarga besar Warga Arya Wang Bang Pinatih atau yang sering dikenal dengan sebutan I Gusti Pinatih. Kisah ini bukan sekadar silsilah nama, melainkan sebuah epik perjalanan kehidupan yang membentang dari tanah Jawa hingga menancapkan akar yang kuat di Pulau Dewata.
Awal Mula: Mpu Siddhimantra dan Kisah Manik Angkeran
Cerita ini bermula jauh di masa lampau, di Kerajaan Janggala. Hiduplah seorang Mpu sakti bernama Mpu Siddhimantra. Beliau adalah sosok yang sangat dihormati, namun memiliki satu kerinduan terbesar dalam hatinya: beliau tidak dikaruniai seorang anak sebagai penerus keturunannya.
Dengan ketulusan dan kekuatan batin yang luar biasa, Mpu Siddhimantra melakukan upacara suci Homa Yadnya. Upacara ini dilakukan dengan cara yang sangat istimewa, di mana beliau mempersembahkan arang kayu yang dicampur dengan permata-permata berharga ke dalam api suci. Doa dan pengabdian beliau didengar oleh Yang Maha Kuasa. Dari hasil tapa brata dan upacara suci itulah, lahirlah seorang putra yang diberi nama Manik Angkeran.
Manik Angkeran tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan dan cerdas, namun sayangnya ia memiliki sifat yang sangat nakal dan boros. Hobi utamanya adalah berjudi. Tanpa rasa lelah, ia menghabiskan harta peninggalan ayahnya hingga ludes tak bersisa. Karena merasa bersalah dan takut dimarahi, Manik Angkeran pun memutuskan untuk mengembara hingga sampai ke kaki Gunung Agung, tepatnya di daerah Besakih.
Di sana, ia bertemu dengan makhluk ajaib bernama Naga Basukih. Naga ini memiliki keistimewaan luar biasa: sisik terbuat dari emas murni. Dengan baik hati, Naga Basukih mengizinkan Manik Angkeran mengambil sisiknya untuk dijadikan harta. Namun, sifat serakah Manik Angkeran tidak terbendung. Ia menginginkan lebih. Ia melihat ada intan permata yang sangat indah di bagian ekor sang naga.
Tanpa berpikir panjang, ia menghunus senjata dan menebas ekor Naga Basukih untuk mengambil intan itu. Tentu saja hal ini membuat sang naga murka. Dengan cepat, Naga Basukih mematuk bayangan Manik Angkeran, dan seketika itu juga tubuh sang pemuda lenyap menjadi abu. Melihat kejadian itu, Mpu Siddhimantra yang mengetahui peristiwa tersebut segera datang dan menggunakan kesaktiannya untuk menghidupkan kembali putranya. Dari peristiwa inilah garis keturunan mereka terus berlanjut.
Lahirnya Soroh Arya Wang Bang Pinatih
Putra dari garis keturunan Manik Angkeran yang bernama Ida Bang Banyak Wide adalah sosok yang menjadi penanda lahirnya soroh ini. Ida Bang Banyak Wide berasal dari wangsa Brahmana, seorang yang sangat saleh dan memegang teguh tradisi leluhur.
Dalam perjalanan hidupnya, Ida Bang Banyak Wide menjalin hubungan pernikahan dengan seorang putri cantik bernama Ni Gusti Ayu Pinatih, yang merupakan putri dari Arya Beleteng. Pernikahan ini dilakukan dengan sistem Nyentana (masuk ke dalam keluarga pihak istri). Karena beliau menyatu dan menetap di dalam keluarga istrinya yang berasal dari golongan Arya atau bangsawan, maka status wangsa beliau pun beralih. Dari yang semula Brahmana, kemudian dikenal dan menetap sebagai Arya Wang Bang Pinatih.
Nama "Arya Wang Bang Pinatih" memiliki makna yang sangat dalam dan indah:
- Arya: Merupakan gelar kebangsawanan yang berasal dari tanah Jawa. Gelar ini diberikan kepada keturunan raja-raja dari Kadiri, Kahuripan, dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya setelah masa kejayaan Majapahit. Di Bali, gelar ini kemudian diserap menjadi "Gusti".
- Wang Bang: Diambil dari nama leluhur mereka, yaitu Ida Bang Banyak Wide.
- Pinatih: Diambil dari nama sang istri tercinta, Ni Gusti Ayu Pinatih.
Jadi, nama ini adalah gabungan dari identitas suami dan istri, bukti cinta dan kesatuan yang melahirkan generasi-generasi penerus hingga hari ini.
Posisi Mulia dalam Sad Arya
Dalam struktur masyarakat Bali zaman dahulu, keluarga besar ini menempati posisi yang sangat terhormat. Dalam Babad Arya disebutkan dengan jelas bahwa Arya Wang Bang termasuk ke dalam kelompok Sad Arya atau sering juga disebut Sad Sanak.
Mereka bersaudara bersama dengan marga-marga besar lainnya seperti Arya Kenceng, Arya Kutawaringin, Arya Sentong, dan lainnya. Kelompok Sad Arya ini adalah keturunan langsung dari para utusan Majapahit yang dikirim oleh Patih Gajah Mada ke Bali bersama dengan Sri Kresna Kepakisan untuk menegakkan pemerintahan dan menyebarkan ajaran Dharma. Kehadiran mereka menjadi fondasi penting dalam tatanan sosial dan budaya di Bali hingga saat ini.
Wujud Lontar dan Napak Tilas
Kisah agung ini tidak hanya tersimpan dalam ingatan lisan, tetapi tertulis dengan rapi dan indah dalam naskah lontar. Lontar Babad Arya Pinatih yang telah didigitalisasi dan dapat ditemukan di Wikisource ini memiliki ketebalan mencapai 118 halaman dengan ukuran file sekitar 51.16 MB. Naskah ini ditulis menggunakan aksara Bali kuno yang memuat silsilah yang sangat rinci, mulai dari leluhur paling atas hingga aturan-aturan adat serta arah kiblat ke Pura Kawitan masing-masing.
Bagi anggota keluarga Arya Wang Bang Pinatih yang ingin melakukan napak tilas mengikuti jejak nenek moyang, terdapat beberapa tempat suci atau Pura Kawitan yang menjadi pusat pemujaan. Beberapa di antaranya dapat ditemukan di wilayah Kerobokan dan juga di daerah Buleleng.
Intisari Sejarah
Secara garis besar, Babad Arya Wang Bang Pinatih ini menjadi bukti sejarah yang tak terbantahkan bahwa warga Arya Wang Bang Pinatih adalah hasil dari perpaduan yang sangat indah antara wangsa Brahmana dan keturunan Arya Beleteng. Leluhur mereka memiliki akar yang kuat mulai dari Mpu Siddhimantra dan Manik Angkeran, kemudian bersambung dengan arus besar migrasi dan penyebaran agama dari Majapahit ke Bali.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa menjadi bagian dari soroh ini bukan hanya soal gelar, melainkan warisan nilai-nilai luhur, kesaktian, dan sejarah panjang yang harus dijaga dan dibanggakan oleh setiap keturunannya.
Komentar