Arya Anglurah Kaba-Kaba.
Arya Anglurah Kaba-Kaba.
Di antara deretan kerajaan kuno yang pernah berjaya di Tabanan, nama Kaba-Kaba selalu disebut dengan penuh hormat dan kebanggaan. Sejarah panjang mengenai berdirinya kerajaan ini, silsilah para rajanya, serta kejadian-kejadian besar yang pernah terjadi, tertulis dengan sangat jelas dan rinci dalam berbagai naskah lontar pusaka yang hingga kini masih terawat baik sebagai saksi bisu perjalanan waktu.
Sumber yang paling khusus dan lengkap menceritakan tentang wilayah ini terdapat dalam Lontar Babad Kaba-Kaba. Di dalam naskah suci ini, diceritakan secara detail bagaimana proses berdirinya Kerajaan Kaba-Kaba yang dipelopori oleh sosok agung yaitu Arya Belog atau yang juga dikenal dengan sebutan Arya Tan Wikan. Lontar ini bukan hanya mencatat silsilah raja-raja yang memimpin dari generasi ke generasi, tetapi juga merekam peristiwa-peristiwa besar seperti peperangan yang pernah terjadi melawan Kerajaan Mengwi, serta kondisi masyarakat pada masa penjajahan Belanda hingga masa pendudukan Jepang. Yang unik dan hingga kini masih dipegang teguh oleh keturunannya adalah catatan mengenai pantangan atau pamali, yaitu larangan bagi segenap keluarga besar Kaba-Kaba untuk tidak memakan burung Tuwu-Tuwu, sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun sejak zaman nenek moyang.
Kisah mengenai kedatangan leluhur mereka juga diperkuat oleh catatan dalam Lontar Babad Arya Tabanan. Di sana tertulis dengan gamblang bahwa setelah selesainya ekspedisi besar yang dipimpin oleh Patih Gajah Mada dari Majapahit pada tahun 1343 Masehi, Arya Belog ditetapkan dan ditempatkan di wilayah Kaba-Kaba untuk memimpin dan membuka desa. Ini menandakan bahwa keberadaan beliau di tanah itu bukanlah kebetulan, melainkan sebuah penugasan resmi dari kerajaan besar untuk menjaga dan memakmurkan wilayah tersebut.
Lebih jauh lagi, dalam Lontar Babad Arya Jawi yang mencatat daftar para bangsawan yang mengiringi perjalanan Sri Kresna Kepakisan, nama beliau tercatat dalam urutan nomor 3 dengan sebutan tegas: "Arya Belog di Kaba-Kaba". Hal ini membuktikan bahwa posisi beliau sangat strategis dan penting dalam barisan para penguasa baru yang datang dari tanah Jawa untuk menata pulau Dewata. Beliau bukan sekadar pendatang biasa, melainkan seorang pejabat tinggi atau Mantri yang kehadirannya sangat dinanti dan dihormati.
Hal senada juga termuat dalam Lontar Babad Dalem, yang menjadi catatan umum mengenai pembagian wilayah kekuasaan kepada para Arya. Di dalam naskah tersebut, dengan jelas disebutkan bahwa wilayah Kaba-Kaba menjadi daerah kekuasaan yang dipercayakan sepenuhnya kepada Arya Belog. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sejak awal kedatangan, beliau sudah memiliki wewenang yang luas untuk mengatur tanah dan rakyat di wilayah tersebut.
Berdasarkan rangkuman dari berbagai lontar tersebut, diketahui bahwa Arya Belog adalah salah satu tokoh penting yang menjabat sebagai Mantri di Kerajaan Samprangan sebelum akhirnya berpusat di Kaba-Kaba. Wilayah kekuasaan beliau sangat luas, terbentang dari bagian utara yang menjangkau daerah pegunungan Tabanan, berbatasan timur dengan Sungai Busak, memanjang ke selatan hingga ke pesisir laut, dan membentang ke barat hingga ke Desa Pangragoan. Wilayah yang sangat luas dan subur ini kemudian dikelola dengan bijaksana sehingga menjadi kerajaan yang makmur dan kuat.
Sebagai tanda kehormatan dan status kebangsawanan yang tinggi, seluruh keturunan dari garis beliau menggunakan gelar kebangsawanan yang sangat dihormati yaitu Arya Anglurah Kaba-Kaba. Gelar ini bukan sekadar panggilan, melainkan simbol martabat dan tanggung jawab yang diemban oleh keluarga tersebut selama berabad-abad.
Sebagai wujud bakti dan tempat memuja roh leluhur, keluarga ini memiliki Pura Kawitan yang sangat suci. Pura tersebut bernama Pura Padharman Kaba-Kaba yang terletak di kawasan Pura Besakih, tempat suci umat Hindu di Bali. Pura ini juga sering dikenal dengan sebutan lain yaitu Padharman I Gusti Ngurah Patandakan, menjadi tempat berkumpulnya para keturunan untuk bersembahyang dan memohon keselamatan serta berkah dari para pendahulu yang telah mendahului mereka.
Demikianlah sejarah panjang Kaba-Kaba yang tertulis dalam tinta emas naskah-naskah kuno. Sebuah perjalanan yang dimulai dari kedatangan seorang ksatria bernama Arya Belog, yang kemudian menancapkan tongkat kekuasaannya, menurunkan generasi yang tangguh, dan meninggalkan warisan budaya yang hingga kini masih terasa kuat dan membanggakan di Tabanan.
Komentar