Jejak Tangkas Kori Agung dalam Lembaran Sejarah

Jejak Tangkas Kori Agung dalam Lembaran Sejarah
 
Kisah mengenai keturunan Tangkas Kori Agung merupakan bagian yang sangat istimewa dan unik dalam khazanah sejarah Bali. Naskah-naskah kuno atau lontar yang membahas tentang trah ini umumnya masuk dalam rumpun besar babad keluarga Arya Kanuruhan. Bagi para pratisentana atau keturunannya, terdapat beberapa sumber utama yang selalu dijadikan rujukan untuk menelusuri akar silsilah dan perjalanan leluhur mereka.
 
Sumber yang paling mendasar tertuang dalam Babad Arya Tangkas atau yang sering disebut Babad Tangkas Kori Agung. Lontar induk ini mengisahkan dengan sangat detail tentang asal-usul kelahiran sosok Ki Pangeran Tangkas Kori Agung yang penuh dengan hikmah dan kebijaksanaan. Tercatat dengan jelas bahwa Raja Gelgel pernah memberikan salah satu istrinya yang sedang mengandung dua bulan kepada Pangeran Tangkas. Hal ini dilakukan dengan tujuan mulia agar garis keturunan keluarga Pangeran Tangkas tidak punah dan tetap berlanjut.
 
Ada pesan atau syarat sakti yang disampaikan Raja saat itu: “Janganlah kamu menghilangkan persanggamaan yang telah dilakukan olehku sendiri”. Anak yang lahir dari rahim itu kemudian diberi nama Ki Pangeran Tangkas Kori Agung. Secara biologis, beliau adalah putra dari Raja Gelgel, namun secara adat dan hukum warisan, beliau menjadi putra dari Arya Tangkas. Dari beliau lahirlah tiga putra yang menjadi cikal bakal penyebaran trah ini, yaitu Kiyai Brangsinga, Kiyai Tangkas, dan Kiyai Pegatepan.
 
Selain kisah silsilah, pedoman spiritual dan tata cara upacara bagi keluarga ini tertulis dengan jelas dalam Lontar Sang Hyang Aji Swamandala. Naskah ini sering digunakan sebagai dasar pelaksanaan ritual, khususnya dalam memaknai upacara Melasti. Di dalamnya terdapat kalimat suci yang berbunyi: “Melasti ngarania ngiring prewatek Dewata anganyutaken laraning jagat papa klesa, letuhing bhuwana”. Maknanya sangat dalam, yaitu menjelaskan bahwa Melasti adalah cara untuk mengiringi kehadiran Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan membasuh segala kotoran batin serta keburukan yang ada di alam semesta. Ajaran inilah yang menjadi landasan ibadah di Pura Pusat Kawitan Tangkas Kori Agung hingga saat ini.
 
Perjalanan sejarah tidak hanya berhenti di tempat asalnya, namun tercatat juga penyebarannya yang luas dalam naskah Babad Bali Keturunan Pasek Tangkas Kori Agung. Diceritakan bagaimana para keturunannya berpindah dan bermukim dari Desa Tangkas, Klungkung ke berbagai wilayah di Bali. Hingga kini, trah ini banyak ditemukan di daerah Gianyar seperti Banjar Patolan Pering, Tedung Abianbase, Manuaba Kaja Kenderan, hingga Gelgel Keramas dan Apuan Singapadu. Di wilayah Klungkung terdapat di Tegalwangi, di Karangasem tersebar di Abang, Abangsongan, Abang Batudingding, dan Talibeng, serta di Buleleng seperti di Baleagung Sudaji dan Bahbiyu Depaha.
 
Satu hal yang sangat penting dan menjadi ikatan persaudaraan yang kuat adalah adanya Bhisama atau wasiat leluhur yang menyebutkan bahwa pratisentana dari marga Pasek, Bendesa, Gaduh, Dangka, Ngkuhin, Kubayan, Tangkas, Salain, Tohjiwa, dan Prateka pada hakikatnya adalah bersaudara satu darah. Oleh karena itu, dalam aturan adat lama, mereka diperbolehkan untuk saling ambil-mengambil atau saling membantu dalam hal kewarisan dan tanggung jawab adat jika diperlukan.
 
Bukti fisik keberadaan leluhur ini juga terawat abadi dalam catatan Sejarah Pura Kawitan Pangeran Tangkas Kori Agung yang terletak di Desa Tangkas, Klungkung. Meskipun bukan berupa lontar gulungan, sejarah tertulis di pura ini sangat otentik. Pura suci ini didirikan dan dipersembahkan khusus untuk memuja Batara Lingsir Sire Arya Kanuruhan dan Pangeran Tangkas Kori Agung sebagai leluhur utama.
 
Hingga saat ini, warisan naskah-naskah berharga seperti Babad Arya Tangkas masih tersimpan dengan sangat baik dan dirawat dengan penuh hormat di berbagai Griya, Puri milik keluarga, serta di institusi pelestarian budaya seperti Gedong Kirtya di Singaraja. Kisah-kisah ini juga telah didokumentasikan dalam buku referensi seperti Sejarah Arya di Bali: Arya Kanuruhan, agar generasi penerus senantiasa eling dan mengenang asal-usul yang luhur.

Komentar